Limbah Masih Berbau, PT RUM Sukoharjo Kembali Didemo

Tulisan PT RUM Kudu Ditutup di pintu masuk PT RUM, Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, yang ditulis pendemo, Selasa (2/10 - 2018). (Solopos/Trianto Hery Suryono)
02 Oktober 2018 19:15 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Ratusan warga sekitar pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, mendatangi perusahaan tekstil itu, Selasa (2/10/2018) siang.

Awalnya warga berkumpul di Kantor Kecamatan Nguter lalu berangkat menuju pabrik sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka menuntut pabrik itu ditutup karena bau limbah masih mengganggu.

Pantauan Solopos.com, aksi massa berlangsung hingga pukul 15.20 WIB. Perwakilan warga dan PT RUM sempat melakukan pembicaraan di dalam pabrik dan menghasilkan tiga poin kesepakatan.

Salah satu kesepakatan itu yakni PT RUM diberi waktu lima hari untuk menyelesaikan masalah limbahnya. Jika masih ada kendala terkait trial produksi akan dihentikan. Evaluasi akan dilakukan pada 2-7 Oktober.

Surat kesepakatan bermaterai itu diteken Dirut PT RUM Mochamad Rachmat, lima perwakilan warga seperti Sutarno Ari Suwarno, Eko Supriyadi, Heri Purwito, Joko dan Winarto serta Camat Nguter Sumarno, Danramil Nguter Kapten (Arm) Bahrun, dan Kapolsek Nguter AKP Banuari.

Sementara itu, selama perwakilan warga melakukan pembicaraan di dalam pabrik, sebagian pendemo membentangkan spanduk dengan tulisan "Disegel Rakyat, PT RUM Disegel, 5 Keadilan Sosial Buat Siapa?, Rest Area Pengungsi #tutup PT RUM dan Kami Tidak Butuh Belas Kasihan dan Kata Mutiara dari PT RUM yang Kami Butuhkan Henikan Pencemaran Lingkungan dan Tutup PT RUM."

Kejengkelan warga juga dituangkan dalam tulisan di jalan masuk pabrik PT RUM. Ada tiga tulisan yakni Penjarakan Pramono, Selain Anjing Dilarang masuk dan PT RUM Kudu Tutup. Ari mengatakan tulisan itu puncak kejengkelan warga.

“Kami tidak tahu siapa yang menulis itu. Kami menilai tulisan itu ekspresi kejengkelan warga karena bau limbah PT RUM yang dibiarkan terus-menerus walau warga sudah protes ke Bupati dan Pak Bupati sudah membuat surat perintah penutupan sementara hingga pengolahan limbah tidak berbau lagi,” jelas Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan, Sukoharjo, Ari Suwarno.

Ari menegaskan keinginan warga sebenarnya tidak sulit. Warga hanya menginginkan udara yang bersih tanpa bau yang menyengat.

"Hanya itu kok. Jika masih ada bau, berhenti operasional dan perbaiki pengolahan limbah kemudian uji coba lagi. Jika uji coba masih ada bau ya dihentikan kembali, perbaiki lagi hingga bau tidak ada lagi. Hanya itu keinginan warga,” tandasnya.

Dirut PT RUM, Mochamad Rachmad, menjelaskan trial sudah dimintakan izin ke Bupati. Menurutnya, penyebab bau karena masih ada pipa bocor dan sampai saat ini masih diperbaiki.

“Saat uji coba banyak alat trouble. Jika mesin tidak jalan tidak bisa diketahui di mana kerusakan,” ujarnya.

Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengatakan telah menemukan sumber uapan udara yang tidak tersedot ke pengurai udara wet scrubber. Butuh waktu dua hari untuk mengatasi masalah tersebut.

“Sifat gas tidak terlihat dan hanya bisa dicium sehingga menyebar ke mana-mana. PT RUM terus berbenah tanpa henti agar bau hilang," jelas Bintoro.