Harga Gabah Tembus Rp4.800/Kg, Petani Sragen Masih Mengeluh

Sejumlah buruh tani memanen padi di wilayah Dukuh/Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen, Senin (1/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
02 Oktober 2018 11:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Harga gabah kering panen (GKP) pada musim panen kali ini mencapai Rp4.800/kg. Hasil panen tersebut menguntungkan petani karena harga GKP jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp3.700/kg.

Kendati demikian, biaya produksi, terutama pengairan juga tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh petani tak terlalu besar. Seorang petani asal Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen, Mardi, 55, saat berbincang dengan Solopos.com di sawahnya, Senin (1/10/2018), mengatakan padi di sawahnya seluas dua patok laku Rp26 juta atau Rp13 juta per patok.

Dia menyampaikan harga GKP pada musim panen ini memang tinggi tetapi biaya produksinya juga tinggi, terutama untuk kebutuhan pengairan.

“Selama musim kemarau tahun ini nyaris tak ada hujan. Saya sejak tanam sampai menjelang panen masih menyedot air dari sumur pantek. Biaya pengairan dengan mengandalkan sumur pantek itu mencapai Rp30.000/jam. Biasanya untuk mengairi sawah itu membutuhkan waktu 5-6 jam atau setidaknya Rp150.000-Rp180.000. Pengairan itu biasanya setiap lima hari sekali,” ujarnya.

Mardi menjelaskan petani di Ngarum ini mulai tanam sampai hendak panen membutuhkan air irigasi dari sumur pantek. Salah satu sumur di sawah milik Mardi bisa mengaliri 15 patok sawah di wilayah Ngarum.

“Petani memang diuntungkan dengan harga itu. Tetapi kalau diakumulasi dalam setahun sebenarnya petani tak untung-untung amat karena harga GKP saat musim penghujan bisa jatuh sampai Rp3.300/kg,” ujarnya.

Dia menyampaikan harga GKP tahun ini yang mencapai Rp4.800/kg itu sebenarnya anjlok bila dibandingkan tahun lalu yang bisa sampai Rp5.000/kg. Dia tidak tahu apa yang membuat harga berubah padahal kualitas gabahnya terhitung baik karena kadar airnya rendah.

Dia menyampaikan harga GKP per daerah berbeda tergantung kualitas padinya. “Harga Rp4.800/kg itu dipanen pakai combined harvester bukan threser,” ujarnya.

Petani asal Sidoharjo, Sragen, Didik Sunardi, 49, menyamppaikan harga GKP rata-rata memang mencapai Rp4.700/kg yang dipanen dengan combined harvester. Kalau panennya dengan threser, harganya anjlok dengan selisih Rp200-Rp300/kg.

“Gabah di wilayah Tangkil, khusus di utara jalan tol tak sesuai harapan petani, hanya Rp10 juta. Tahun lalu, saya pernah jual GKP ke produsen beras itu bisa tembus Rp5.600/kg. Sekarang harga segitu tidak tercapai dan produsen beras tidak berani buka dengan harga tinggi karena harga jual beras dibatasi dengan harga eceran tertinggi [HET],” ujar Didik.

Dia mengeluhkan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani karena petani selalu berada di posisi yang dirugikan dengan kebijakan pemerintah tersebut. Saat harga GKP bagus di musim panen, muncul isu impor beras dari pemerintah.

“Saya pernah membuat analisis usaha tani, dalam setahun ini biaya produksi petani sampai Rp11,5 juta karena biaya irigasinya besar. Kalau ada yang laku Rp13 juta, petani hanya untung Rp1,5 juta per patok. Kendati untung sedikit, petani sudah merasa senang,” tambahnya.