Pasar Berlabel SNI Dibangun di Sragen

Seorang pekerja berjalan di tengah proyek Pasar Blimbing, Sambirejo, Sragen, Senin (1/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
02 Oktober 2018 15:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Proyek pembangunan Pasar Blimbing, Sambirejo, Sragen, dengan pagu Rp5,727 miliar mulai dikerjakan oleh kontraktor asal Solo.

Pasar tradisional tersebut menjadi pilot project pasar berstandar nasional Indonesia (SNI) dengan grand design dari Kementerian Perdagangan.

Kabid Penataan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Tommy Isharyanto, saat dihubungi Solopos.com, Senin (1/10/2018), menyampaikan proses lelang proyek sudah selesai dan pekerjaan sudah dimulai.

Dia menargetkan proyek pembangunan pasar tersebut rampung dalam 90 hari, tepatnya 23 Desember 2018 mendatang.

“Konsep bangunannya hanya satu lantai. Tidak ada eskalatornya. Ukuran los ada dua, yakni 2 meter x 2 meter dan 2 meter x 3 meter. Ada juga kiosnya. Nanti lokasi pasarnya jaraknya 12 meter dari jalan raya. Jadi pasar itu memang dibuat sebagai pilot project dari Kementerian Perdagangan. Tidak semua kabupaten/kota mendapat dana tersebut,” ujar Tommy.

Dia menyebut hanya beberapa kabupaten/kota di Soloraya yang mendapat dana pembangunan pasar berlabel SNI itu, yakni Sragen, Solo, Wonogiri, Sukoharjo, dan Boyolali.

Dia menjelaskan pemerintah daerah tidak bisa menambah atau mengurangi konsep dalam grand design yang dibuat Kementerian Perdagangan.

“Jadi kalau mengacu pada luasan sekarang memang ada yang berkurang. Mau tidak mau harus menyesuaikan grand design dari Kementerian. Jadi seluruh daerah yang mendapat dana itu bentuk pasarnya sama, luasnya sama,” ujarnya.

Untuk sementara para pedagang Pasar Blimbing menempati pasar darurat yang sudah disiapkan di sisi selatan pasar. Pasar darurat itu dibangun dengan sewa lahan selama tiga bulan.

“Sampai sekarang belum semua pedagang menempati pasar itu karena yang dibangun hanya separuh dari luas pasar. Maunya kalau pindah ya pindah semua,” ujarnya.

Sebelumnya, para pedagang Pasar Blimbing keberatan dengan pembangunan pasar karena konsepnya tidak sesuai luasan kios pasar sebelumnya. Sastro memiliki dua unit kios dengan ukuran 3,5 meter x 5 meter per kios.

Dia sebenarnya sedih dengan rencana perubahan ukuran kios yang menjadi lebih sempit setelah pasar dibangun pemerintah. Dengan ukuran 3 meter x 2 meter, Sastro bingung harus menaruh dagangannya di mana karena dengan ukuran kios tidak muat menampung barang dagangannya.

Pedagang lainnya, Sukardi, 77, memiliki dua kios yang digunakan untuk bengkel sepeda motor. Sukardi juga tidak ingin kiosnya yang berukuran 4 meter x 5 meter per kios dipersempit menjadi 3 meter x 2 meter.

“Bisa lihat sendiri dengan ukuran 3meter x 2 meter itu untuk menaruh motor saja tidak bisa karena pasti pintu kios tidak bisa dikunci,” katanya.