Nikmatnya Ngopi Sambil Menikmati Candi di Klaten

Warga menyeruput kopi sambil menikmati pemandanganCandi Kembar di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Senin (1/10/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
02 Oktober 2018 20:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kian sore suasana Paseban Candi Kembar, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten kian ramai, Senin (1/10/2018). Orang-orang berdatangan mengerumuni stan kedai kopi yang saling berhadapan. Mereka menantikan kopi bikinan barista dan sesekali berbincang segala hal tentang kopi.

Seusai menerima secangkir kopi, sebagian menikmatinya di sepanjang jalan desa. Sesekali mereka menghirup aroma kopi sembari menikmati lembayung senja di balik Candi Plaosan, bangunan bersejarah perpaduaan kebudayaan Hindu dan Buddha.

Sore itu, para pemilik kedai kopi yang tergabung dalam Paguyuban Kopi Prambanan Kalasan (PKPK) menggelar acara bertajuk Srawung Sagung, Ngopa Ngopi Ngopeni. Kegiatan itu digelar untuk memperingati Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada 1 Oktober.

Ada delapan kedai kopi yang membuka stan dengan 1.000 cangkir kopi diberikan gratis. Tak sekadar menyajikan, para barista menjelaskan proses membikin secangkir kopi hingga menjelaskan beragam jenis kopi dan cita rasanya.

Seperti pemilik kedai Ngopi Disini, Angga Purnama, yang meladeni pertanyaan para pengunjung. Mayoritas menanyakan perbedaan jenis kopi Robusta dan Arabica. “Banyak yang masih awam tentang apa itu kopi Robusta dan Arabica. Kalau Robusta itu bijinya lebih besar dan ditanamnya di daerah lebih rendah. Untuk cita rasanya itu cenderung pahit. Sementara, Arabica cita rasanya cenderung lebih asam,” kata pria yang biasa berjualan dengan cara bersepeda.

Penasihat PKPK, Puguh Tri Bendarto, mengatakan kedai kopi yang mengikuti kegiatan sore itu biasa berjualan di wilayah Prambanan dan Kalasan, daerah perbatasan antara Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka menyajikan varian kopi lokal seperti Bali Kintamani, Aceh Gayo, Flores, Wamena, Papandayan, serta Temanggung. “Kami ingin mengangkat kopi nusantara yang rasanya tak kalah nikmat dibanding kopi dari luar negeri,” jelas dia.

Ketua panitia acara, Syaifudin Ahmad Nugroho, mengatakan acara sore itu menjadi Lebaran para pencinta kopi. Tak sekadar menyajikan kopi gratis, acara dikemas dengan workshop metode membikin secangkir kopi. “Belum banyak yang tahu bagaimana metode membikin kopi. Orang tahunya kopi itu ya sudah berupa kopi tubruk,” kata pria yang biasa disapa Oks itu.

Oks menjelaskan cita rasa kopi tak tergantung dari penyajian. Proses penanaman, pemetikan, pemilihan biji kopi, penggorengan, penggilingan, hingga penyeduhan menentukan cita rasa. “Seluruh rangkaian kopi itu saling berkaitan. Jadi, tidak sekadar cara menyeduhnya saja yang menentukan cita rasa kopi itu,” urai dia.

Oks menuturkan tak hanya untuk edukasi dan membudayakan ngopi, acara sore itu juga menjadi ajang guna mengangkat budaya yang ada di sekitaran Prambanan serta Kalasan. Seperti diketahui, wilayah Prambanan dan Kalasan kaya akan peninggalan warisan budaya berupa candi.

Istilahnya ngopi yang berbudaya. Selain membudayakan ngopi, kami juga mengajak agar merawat budaya yang ada termasuk menggeliatkan pariwisata,” tutur dia.

Kegiatan yang digelar sore hingga malam itu tak sekadar diramaikan warga lokal. Sejumlah turis asing yang melintas tertarik menikmati kopi bikinan barista Prambanan dan Kalasan. Salah satunya Natali, turis asal Belanda. Ia spontan mampir di Paseban Candi Kembar saat bersepeda mengelilingi kawasan Candi Plaosan. “Ini menjadi kejutan bagi saya. Awalnya hanya untuk bersepeda ternyata bisa juga merasakan kopi lokal dan keramahtamahan warga di sini,” tutur dia.