Logo Brand Kaus Wonogiri Panen Kritik karena Mirip Daun Ganja

Duta wisata Wonogiri memakai kaus Gapleki. (Istimewa)
02 Oktober 2018 12:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Logo brand kaus asli Wonogiri, Gapleki, mendapat banyak kritikan dari masyarakat karena sekilas mirip dengan daun ganja. Padahal sebenarnya itu adalah daun singkong.

Perintis brand tersebut, Aris Agung, warga Desa Pokoh Kidul, Kecamatan/Kabupaten wonogiri, memakai gambar daun singkong sebagai logo brand-nya karena singkong merupakan bahan baku gaplek, penganan khas Wonogiri.

Aris Agung, saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Senin (1/10/2018) pagi, mengaku berulang kali mendapat kritikan dan desakan untuk mengganti logo daun singkong tersebut.

“Berulang kali ada yang bilang logo ini mirip daun ganja padahal mereka hanya melihat dari jauh. Apabila dilihat dari dekat jelas daun singkong sebagai bahan gaplek, kan Wonogiri terkenal dengan gapleknya,” ujar Aris Agung.

Selain logo, Aris juga beberapa kali diminta mengganti nama brand-nya, Gapleki. Hal itu karena gaplek dianggap sudah tidak identik lagi dengan Kabupaten Wonogiri.

Ia mengaku tetap bertahan menggunakan logo daun singkong berwarna hijau dan tetap menggunakan nama Gapleki karena ia berkeyakinan Kota Gaplek masih jadi ikon Wonogiri yang layak dipertahankan.

Ia tak membantah gaplek yang diolah menjadi nasi thiwul merupakan makanan orang miskin namun hal itu sudah tidak relevan lagi sekarang. Ia membuat desain logo daun singkong yang mirip daun ganja dikarenakan agar orang melihat lebih dekat.

Sama halnya masyarakat harus melihat Wonogiri dari dekat untuk melihat pembangunan dan potensi alamnya yang luar biasa. Menurutnya, gaplek saat ini banyak dicari orang dari berbagai kalangan bahkan banyak perantau yang memesan gaplek dari Wonogiri.

Ia menyayangkan predikat Kota Gaplek melekat pada Wonogiri namun justru daerah lain yang lebih banyak menjual melalui pasar online dengan harga cukup mahal yakni Rp25.000/kg. Ia berkeyakinan kaus nyeleneh dengan sindiran, edukasi, kepada warga Wonogiri dapat turut menjaga dan mengembangkan potensi pariwisata di Kabupaten Wonogiri.

Dalam sebulan ia dapat menjual hingga 120 kaus dengan harga Rp100.000 di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa waktu lalu dia bekerja sama dengan Duta Wisata Wonogiri menggelar Wonogiri Summer Camp di Bulukerto.

Wakil Ketua Pelaksana Wonogiri Summer Camp Perwakilan Duta Wisata, Revani Yola, mengatakan kaus Gapleki dipilih karena Wonogiri terkenal dengan singkong dan gaplek. Logo daun singkong yang dianggap mirip daun ganja bukan menjadi persoalan karena dalam acara yang digelar dua hari pada Sabtu-Minggu (29-30/9/2018) di Desa Conto, Bulukerto, itu dijelaskan mengenai hal tersebut.

Menurutnya, apa yang dilakukan Agung merupakan sebuah potensi daerah dari industri kreatif yang layak dikembangkan.