Pemdes di Klaten Ini Bayari Premi JKN Warga dari Sektor Wisata

Umbul Susuhan di Desa Manjungan, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
03 Oktober 2018 22:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pohon rindang menaungi sumber mata air di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dikenal dengan nama Umbul Susuhan.

Dulunya, umbul yang berdampingan dengan Umbul Gedaren, di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom dan Umbul Jolotundo di Desa Ngabeyan, Kecamatan Karanganom, itu menjadi tempat mencuci mobil, karpet, hingga beragam perabotan seperti piring dan gelas selain fungsi utama sebagai sumber irigasi.

Kondisinya tak terawat dan kumuh dipenuhi dedaunan serta sampah plastik dan busa sabun. Namun, kondisi umbul yang berada tak jauh dari jalan raya Klaten-Jatinom itu mulai berubah sejak 2015.

Warga dan Pemerintah Desa Manjungan sepakat menggarapnya menjadi objek wisata air secara bertahap memanfaatkan gelontoran dana desa.

Pembangunan diawali dengan mendirikan tembok mengelilingi kawasan umbul. Pembangunan dilanjutkan penataan kawasan dan pembuatan kolam salah satunya kolam khusus perempuan berukuran 20 meter x 7 meter dengan kedalaman 50 sentimeter hingga 150 sentimeter.

Kolam yang dikelilingi tembok tinggi itu hanya bisa diakses kaum hawa. Umbul Susuhan mulai dibuka untuk umum dan dikelola melalui Badan Usaha Milik (BUM) Desa Mahanani sekitar Maret 2017.

Sementara proses pembangunan tetap berjalan dengan menambah kolam renang. Saat ini sudah lengkap dengan dua kolam alami, kolam renang khusus perempuan, kolam renang anak-anak, dan kolam renang prestasi dengan kedalaman sekitar 2,25 meter.

"Awal pengembangan Umbul Susuhan ini juga didasari kesuksesan Umbul Ponggok,” jelas Direktur BUM Desa Mahanani, Agus Tri Joko, saat ditemui di sela peresmian objek wisata Umbul Susuhan, Selasa (2/10/2018).

Banyaknya pengunjung yang berdatangan membuat pendapatan BUM Desa Mahanani yang mengelola Umbul Susuhan terdongkrak. Selama 2017, pendapatan BUM desa tersebut sekitar Rp800 juta.

Jumlah itu meningkat pada Januari-September 2018 menjadi Rp900 juta dari target Rp1 miliar hingga akhir tahun. “Tiket masuk umbul Rp8.000/orang. Bulan ini kami rencanakan menambah fasilitas asuransi jiwa dari setiap tiket masuk,” urai dia.

Joko menuturkan keberadaan umbul juga menjadi tempat pemberdayaan masyarakat. Ada sekitar delapan warga setempat yang menjadi karyawan tetap dengan honor sekitar Rp1,5 juta/orang/bulan.

“Warga juga mendapatkan penghasilan dari pengelolaan warung di sekitar umbul,” katanya.

Kepala Desa Manjungan, Bambang Pramana Dewa, mengatakan total dana yang sudah dialokasikan dari dana desa untuk Umbul Susuhan sekitar Rp1,8 miliar. Selain dana desa, pada 2017 pemerintah desa setempat mendapat gelontoran dana bantuan keuangan khusus Rp200 juta guna pengembangan umbul tersebut.

Bambang mengatakan jika pendapatan desa dari pengelolaan Umbul Susuhan sebelumnya hanya Rp15 juta/tahun, kini pendapatan dari umbul itu mencapai ratusan juta rupiah. Dari pendapatan bersih, 50 persen menjadi sumber pendapatan asli desa.

Sisanya digunakan untuk operasional, pengembangan umbul, hingga kegiatan sosial. Sebagian pendapatan bersih pengelolaan umbul digunakan membayari premi jaminan kesehatan nasional (JKN) yang dikelola BPJS untuk 137 warga.

Selain itu digunakan untuk pemberian 300 paket sembako. “Rencananya ada dua RTLH yang akan kami beri bantuan rehab masing-masing Rp10 juta. Jambanisasi untuk lima unit masing-masing Rp2,5 juta serta sambungan listrik untuk lima unit rumah masing-masing nilainya Rp2 juta. Rencana ke depan juga untuk bantuan siswa miskin. Bantuan itu berasal dari pengelolaan Umbul Susuhan,” urai dia.

Soal pengembangan kawasan umbul, Bambang merencanakan akan ada wahana flying fox. Tak jauh dari kawasan umbul juga bakal didirikan rumah makan.

Meski dimanfaatkan sebagai tempat wisata, Bambang memastikan umbul dengan debit 150 liter/detik itu tetap berfungsi sebagai sumber irigasi.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan dengan pendapatan per bulan sekitar Rp80 juta, Umbul Susuhan bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. Ia meminta ada inovasi pengelolaan umbul.

“Di Klaten itu banyak sumber mata air dan berpotensi dimaksimalkan menjadi objek wisata. Makanya pengelolaan Umbul Susuhan perlu ada inovasi dan kreativitas agar tidak monoton hingga masyarakat jenuh,” katanya.