6 Warga Karanganyar di Palu Minta Bantuan Pulang

Warga yang terluka dievakusi dengan pesawat Hercules di Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9 - 2018). (Antara / Hafidz Mubarak A)
03 Oktober 2018 20:15 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Enam orang warga Karanganyar selamat dari bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/8/2018) lalu.

Kini, mereka berharap mendapat bantuan untuk bisa pulang ke Karanganyar. Informasi yang dihimpun Solopos.com, ada 12 warga Kabupaten Karanganyar yang mengadu nasib di Kota Palu, Sulawesi Tengah, sejak 2-3 bulan lalu. 

Mereka bekerja sebagai buruh bangunan. Kondisi 12 orang warga Karanganyar itu selamat.

Awalnya, 12 orang itu ingin bertahan di Palu hingga situasi dan kondisi stabil. Tetapi, enam orang warga Karangpandan dan Ngargoyoso berubah pikiran. 

Mereka adalah Dwi Purnomo, warga Popongan, RT 001/RW 01, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan; Dwi Wijayanto, warga Gondangberjo, RT 002/RW 011, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso; Sugiyanto, warga Bankar RT 001/RW 004, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan; Sutarwo dan Apri Saryanto warga Bulurejo, RT 002/RW 008, Desa/Kecamatan Karangpandan; dan Suwarto, warga Bulurejo, RT 002/RW 015, Desa/Kecamatan Karangpandan.

Mereka tinggal di Jl. Ahmad Yani Nomor 25, Kelurahan Birobuli, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Awalnya mereka menyampaikan keinginan itu lewat media sosial. 

Tetapi respons warga Internet belum sesuai harapan. Akhirnya, mereka meminta bantuan melalui sukarelawan Karangpandan (Rendan). 

"Salah satu korban memiliki kerabat di Rendan. Melalui itu, kami berkomunikasi dengan mereka. Hasilnya, enam orang saja yang ingin pulang. Tetapi tidak memiliki ongkos. Bencana alam melanda sebelum bayaran [menerima gaji setiap tanggal 1]," kata Anggota Rendan, Ade Irawan, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (3/10/2018).

Ade menuturkan anggota Rendan menggalang dana dengan mengamen di perempatan lampu lalu lintas maupun menghubungi donatur. Selama dua hari mengumpulkan bantuan sumbangan, mereka mengantongi Rp3 juta. 

Ade mengungkapkan sudah berkoordinasi dengan enam orang warga Karanganyar itu. Mereka disarankan menumpang pesawat Hercules hingga Makassar. 

Informasi terakhir yang diterima Rendan pada Selasa (2/10/2018) malam, enam orang itu sudah berada di bandara. Tetapi, Ade belum dapat memastikan apakah mereka sudah berhasil naik pesawat Hercules atau masih di bandara. 

"Komunikasi terkendala sinyal. Belum ada kabar lagi sampai hari ini. Begitu sampai Makassar, kami bantu biaya ke Surabaya atau DIY. Sampai situ [Surabaya atau DIY] kami jemput. Kami butuh Rp5 juta-Rp6 juta untuk tiket pesawat enam orang dari Makassar ke Surabaya atau DIY makanya ngamen," ujar dia. 

Selain mengamen, mereka juga meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar. Warga Karangpandan, Suwarno, 38, mengaku kakak dari salah satu dari enam orang yang ingin pulang, Suwarto, 36. 

Suwarno menyampaikan adiknya ingin segera pulang karena situasi dan kondisi di Palu belum stabil. Suwarno mengaku kesulitan menghubungi adiknya itu karena sinyal telekomunikasi yang buruk. 

Dia mencontohkan saat kejadian bencana alam pada Jumat, dia kesulitan menghubungi adiknya. "Saya kirim SMS Jumat, dia balas Sabtu. Bilang baik-baik saja dan titip pesan untuk ibu. Dua hari kemudian baru bisa berkomunikasi lagi. Dia bilang ingin pulang tetapi tidak ada dana. Saya khawatir. Saya berharap dia dan teman-temannya bisa pulang dengan selamat," ujar Suwarno saat dihubungi Solopos.com, Rabu.