124 Hektare Hutan Wonogiri Terbakar

Petugas memadamkan api di lahan milik Perhutani, Gunung Kukusan, Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Sabtu (29/9 - 2018) siang. (Istimewa/BPBD Wonogiri)
03 Oktober 2018 18:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Lahan hutan seluas lebih kurang 124 hektare (ha) di sembilan kecamatan Kabupaten Wonogiri hangus terbakar selama periode Januari-2 Oktober 2018.

Lahan terdampak kebakaran hutan tersebut 10 kali lipat lebih luas dibanding lahan yang terbakar sepanjang 2017. Data yang dihimpun Solopos.com di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Rabu (3/10/2018), selama periode kurang dari 10 bulan itu terjadi 40 kebakaran di Eromoko, Jatiroto, Selogiri, Wuryantoro, dan Selogiri.

Selain itu kebakaran lahan hutan juga terjadi di Wonogiri, Baturetno, Manyaran, dan Nguntoronadi. Kebakaran yang berdampak paling luas terjadi di Genukharjo, Wuryantoro, pada 4 Agustus. Kebakaran tersebut menghanguskan lahan seluas 12 ha.

Dampak kebakaran di tiga lokasi lainnya juga cukup luas, yakni mencapai 10 ha. Tiga lokasi kebakaran itu di Desa Boto, Jatiroto; Guno Kidul, Guno, Jatiroto; dan Geran, Jendi, Selogiri.

Mayoritas kebakaran terjadi di lahan hutan rakyat. Selebihnya terjadi di hutan aset Perum Perhutani dan Jasa Tirta.

Sementara itu, pada 2017 tercatat ada 11 peristiwa kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 11,75 ha. Tidak ada korban jiwa maupun luka pada semua peristiwa kebakaran itu.

Dua hari terakhir, yakni 1-2 Oktober terjadi tiga kebakaran lahan Perhutani, yakni di Gerdu, Giriwono, Kecamatan Wonogiri, menghanguskan 1 ha lahan; di Ngringin, Keloran, Selogiri, lahan terdampak seluas lebih kurang 1 ha; dan di Suruh, Bumiharjo, Nguntoronadi menghanguskan lahan seluas 3 ha.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, kepada Solopos.com, Rabu, mengatakan kebakaran hutan diduga disebabkan kelalaian manusia. BPBD sudah kerap mengimbau warga tak membakar semak belukar atau sampah di ladang.

Jika harus membakar sebaiknya diawasi hingga api benar-benar padam. Api yang membakar semak dapat meluas ke wilayah sekitarnya jika tak diawasi.

Warga Nglingi, Gumiwang Lor, Wuryantoro, Joko, saat ditemui Solopos.com menginformasikan setiap kemarau terjadi kebakaran hutan di kawasan Gumiwang Lor. Sampai sekarang tidak ada yang mengetahui penyebabnya.

Dia menduga kebakaran tersebut akibat ulah orang. Kecil kemungkinan api muncul secara alami. Menurut dia api muncul secara alami di hutan hanya bisa terjadi di hutan provinsi tertentu yang terdapat gambut.

“Logikanya, kalau tidak ada yang membakar api bisa muncul dari mana. Kalau di Wonogiri kecil kemungkinan api bisa muncul secara alami,” kata lelaki paruh baya itu.

Urusan kebakaran di Wonogiri menjadi wewenang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Wonogiri. Kepala Satpol PP Wonogiri, Waluyo, sebelumnya mengatakan setiap hari personel pemadam kebakaran siaga.

Namun, saat ini mereka lebih siaga sebab potensi kebakaran lahan dan hunian pada kemarau seperti sekarang ini meningkat dibanding saat musim penghujan. Pada setiap kesempatan dia selalu menyampaikan imbauan kepada warga agar lebih waspada menghadapi kemugkinan terjadinya kebakaran lahan.

Waluyo meminta warga segera melaporkan kepada UPTD Damkar jika melihat titik api. Laporan bisa disampaikan melalui telepon di nomor (0273) 322013. Damkar siaga 24 jam dan siap bertugas setiap saat. Dia menegaskan layanan damkar gratis.