Semanggi Solo Di Ambang Krisis Air Bersih

BPBD Solo mengirim bantuan air untuk warga Gilingan, Banjarsari, Solo, Senin (1/10 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
04 Oktober 2018 13:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah wilayah di Kota termasuk Semanggi di ambang krisis air. Warga di wilayah tersebut mulai waswas air sumur mereka terus menyusut pada musim kemarau ini.

Warga Kampung RT 003/RW 003 Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Lilik Ruly Wiyati, 44, mengatakan air sumurnya kini menyusut. Dia mendapati beberapa pekan terakhir debit air yang keluar dari alat pompa kodoknya makin sedikit.

Ruly pun mengaku waswas air sumurnya bakal terus susut hingga tak bisa dimanfaatkan lagi. Apalagi, kata dia, warga Losari tidak bisa lagi mengandalkan air dari Perumda Air Minum Toya Wening Solo.

Ruly mengaku pernah menjadi pelanggan air bersih dari Perumda Air Minum tapi debit air yang mengalir ke rumahnya selalu kecil bahkan kerap mati.

"Biasanya ember bisa cepat penuh saat saya aliri air dari pompa kodok di belakang. Tapi sekarang tidak lagi seperti itu. Saya yakin air sumur saya mulai surut. Kira-kira untuk mengisi ember hingga penuh, saya sekarang butuh waktu tiga kali lebih lama dibanding biasanya," kata Ruly saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (3/10/2018).

Pengurus Sibat Semanggi, Kasmuri, mendapatkan laporan warga di sejumlah daerah Semanggi yang menjadi pelanggan air bersih Perumda Air Minum juga mengalami kesulitan air saat musim kemarau ini.

Dia mendapati beberapa warga di RW 006, RW 023, dan RW 003 Semanggi mengeluhkan air dari Perumda Air Minum tak pernah mengalir lancar. Air dari Perumda Air Minum yang mengalir ke rumah mereka bahkan kerap mati.

Mendapati kondisi tersebut, warga bersama pengurus Sibat Semanggi lantas mengambil inisiatif meminta Perumda Air Minum Toya Wening mengirim bantuan air bersih menggunakan tangki ke lingkungan warga.

"Air dari PDAM [Perumda Air Minum] yang masuk Losari ngithir. Sementara kalau di Kampung Mojo, airnya sudah sering mati. Mereka sekarang meminta kepada PDAM untuk rutin menyuplai bantuan air bersih. Krisis air bersih di Kampung Mojo sudah terjadi beberapa hari ini," jelas Kasmuri.

Saat dimintai tanggapan, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, Eko Prajudhy Noor Aly, mengaku baru menerima laporan dari warga RT 003/RW 009 Kelurahan Gilingan, Banjarsari, yang kekurangan air bersih.

BPBD belum menerima laporan krisis air dari warga di wilayah lain. Dia pun mempersilakan warga Solo tak perlu sungkan melapor ke BPBD jika mengalami krisis air selama musim kemarau 2018 ini.

Warga bisa juga mengadu melalui kantor pemerintah kelurahan masing-masing. BPBD siap menyuplai air bersih secara gratis kepada warga yang benar-benar mengalami krisis air.

"Baru dari Gilingan yang minta bantuan air bersih karena sumur mereka susut saat musim kemarau ini. Kami pun sudah menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengirim mobil tangki air bersih," jelas Eko.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) Utama Perumda Air Minum Toya Wening, Bayu Tunggul, mengakui suplai air bersih untuk warga agak terganggu saat menginjak musim kemarau. Dia pun mempersilakan para pelanggan air bersih Perumda Air Minum untuk meminta dikirim tangki air bersih ketika air di rumah mereka mati.

"Sumur dangkal warga banyak yang kering saat kemarau. Sementara konsumsi air bersih dari Perumda meningkat tajam. Padahal supply tetap cenderung kurang. Akhirnya beberapa tempat termasuk Semanggi di ujung pelayanan Perumda paling timur dan selatan dari mata air Cokro Tulung, banyak yang tidak teraliri," terang Bayu.