Polresta Solo: Waspadai Peredaran Upal Selama Kampanye Pemilu 2019

ilustrasi uang palsu. (Solopos/Dok)
04 Oktober 2018 16:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Polresta Surakarta mengimbau warga Solo lebih berhati-hati saat bertransaksi selama masa kampanye Pemilu 2019 ini. Biasanya, pada tahapan kampanye pemilihan presiden (pilpres) maupun pemilu legislatif rawan peredaran uang palsu (upal).

“Pelaku peredaran upal biasanya memanfaatkan momen tertentu untuk memuluskan aksinya. Saat ini masuk tahapan kampanye pilpres dan pileg, rawan dijadikan sasaran peredaran upal. Kami perlu memberi tahu warga sebelum ada korban,” ujar Wakapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai, saat diwawancarai Solopos.com, Kamis (4/10/2018).

Andy mengungkapkan warga harus lebih berhati-hati saat melakukan transaksi di pasar, minimarket, SPBU, dan lainnya. Warga yang mendapati ada orang mencurigakan segera laporkan ke polsek terdekat.

Pelaku pengedar upal biasanya memilih sasaran pedagang toko kelontong di kampung serta pasar tradisional karena tidak punya alat pendeteksi upal.

“Sampai detik ini di Kota Solo bebas dari peredaran upal. Di Soloraya kasus upal baru ditemukan di wilayah hukum Polres Karanganyar. Hasil penyelidikan upal itu dibawa pelaku dari Jatim,” kata dia.

Mantan Kapolres Kudus ini meminta warga segera melapor apabila menemukan kasus upal. Warga korban upal biasanya enggan melapor ke polisi karena menilai uang mereka tidak akan kembali.

Hal tersebut yang menyulitkan petugas menangkap pelaku pengedar upal. “Kami patut mewaspadai agar pelaku pengedar upal tidak sampai beraksi di Kota Bengawan. Upal yang kerap dipalsukan berupa pecahan Rp100.000 dan Rp50.000,” kata dia.

Kapolresta Surakarta, Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo, mengungkapkan selain antisipasi peredaran upal polisi juga mengawasi kemungkinan kampanye hitam dan berita hoaks dengan konten berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Berita berkaitan dengan pilpres saat ini banyak beredar di dunia maya dengan tema berbeda-beda. Bahkan berita hoaks bencana Donggala dan Palu, Sulteng, juga beredar di medsos.

“Jika menemukan berita hoaks langsung kami beri tanda serta keterangan. Kemudian disosialisasikan ke medsos Polresta Surakarta agar masyarakat tidak tersesat dengan berita hoaks,” kata dia.