Diprotes, Motif Batik Raja untuk Tempat Sampah Solo

Tempat sampah motif batik parang barong di kawasan Taman Monumen 45 Banjarsari, Solo, Kamis (4/10). Pemkot Solo berencana mengganti desain tempat sampah motif batik parang barong dengan motif lain seiring adanya protes budayawan dan pencinta batik. - Nicolous Irawan
04 Oktober 2018 22:11 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Penggunaan motif parang barong pada tempat sampah itu dinilai tidak tepat. “Saya akan cek apakah itu pengadaan Pemkot atau sumbangan dari pihak lain,” kata Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Kamis (4/10/2018).

Terlepas dari protes tersebut, Rudy, sapaan akrabnya, juga sependapat penggunaan motif batik untuk memperindah tempat sampah kurang tepat. Batik sebagai warisan budaya bangsa  mestinya tidak digunakan sebagai ornamen tempat sampah. “Ojo kabeh-kabeh untuk nguri-nguri batik [Jangan semua untuk melestarikan batik], terus tempat sampah ya pakai desain batik. Ini kurang pas,” kata Rudy.

Namun demikian, Rudy menilai penggunaan motif batik pada angkutan umum tidak ada masalah. Malah hal itu bisa mempromosikan batik kepada masyarakat.

Karena itu, Rudy akan mengganti motif parang barong dengan desain lainnya.

“Nanti kami ganti desainnya [tempat sampah], bukan batik tapi yang lain,” katanya.

Budayawan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, RAy. Febri H. Dipokusumo yang akrab disapa Mbak Febri, menyesalkan penggunaan motif batik parang barong untuk tempat sampah. Dia menjelaskan parang barong memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Parang merupakan salah satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata ”pereng” yang berarti lereng.

Batik ini merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman Keraton Mataram dan dulunya hanya bisa dipakai oleh raja, penguasa, dan ksatria. Khusus parang barong hanya boleh digunakan raja, terutama dikenakan pada ritual keagamaan dan meditasi.

“Karena itu saya miris dengan motif parang barong yang digunakan untuk bungkus tempat sampah. Kami berharap Pemkot bisa mengganti desainnya,” pinta Febri.