Puluhan Keluarga Klaten Tinggal Seatap dengan Sapi

Warga memasak di dapur bersebelahan dengan kandang sapi di Dukuh Banjarjo, Desa Dompyongan, Jogonalan, Rabu (3/10 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
04 Oktober 2018 12:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Harto Ngadinem, 65, berpuluh-puluh tahun tinggal satu atap dengan sapi-sapi miliknya. Kandang dan ruang tamu hanya disekat tembok batako.

Di sela-sela perbincangannya dengan Solopos.com, ia seakan tak merasakan bau kotoran maupun urine sapi yang menyengat.

Di kandang ada tiga ekor sapi jenis metal dan sapi biasa. Di ruangan sekitar tiga meter kali tiga meter itu berisi jerami cadangan makanan, kotoran, dan air minum sapi.

Di teras rumah sebelah kandang sapi, orang-orang biasa berkumpul membahas pertanian, harga komoditas, hingga pembangunan desa.

“Kalau kami sudah biasa seperti ini. Untuk makan, ruangannya agak jauh, jadi baunya enggak tercium,” kata dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Dukuh Tempelsari RT 005/RW 003, Desa Dompyongan, Jogonalan, Klaten, Rabu (3/10/2018).

Saban pagi, ia harus membersihkan kotoran sapi dan membuangnya ke sawah sebagai pupuk. Dengan begitu, kandang selalu bersih dan bau bisa diminimalkan.

Sapi-sapi itu kadang dimandikan agar tak mudah terserang penyakit dan bau. “Di desa ini banyak warga beternak sapi. Ada sekitar 50 keluarga dan hampir semuanya satu atap dengan sapi,” tutur dia.

Solopos.com sempat berjalan berkeliling ke rumah-rumah lain di dukuh tersebut dan menemukan hal serupa. Wagiyo Marjosukarto, 65, juga mengandangkan sapinya di di dapur.

Sekat antara antara dapur dan kandang hanya dibatasi tembok. Sekat itu jauh lebih baik ketimbang dulu di mana ia pernah pakai anyaman bambu.

“Kami berharap ada kandang komunal untuk menampung sapi-sapi warga,” harap dia.

Warga lain, Sumadi, 43, warga Dukuh Banjarjo, Desa Dompyongan, juga memelihara sapi miliknya di dapur. Dapur Sumadi memiliki sumur, tempat memasak, lemari penyimpan perabotan, hingga penanak nasi elektrik.

Lantai kandang sapi berbahan plester agar memudahkan membersihkan kotoran dan urine. “Kotorannya saya buang ke sawah, kadang juga ke kali,” ujar dia.

Ia mengaku merasa terganggu dengan bau atau keberadaan sapi yang satu atap dengan dapurnya. Namun, ia terpaksa melakukan itu lantaran tak punya lahan lain untuk dibangun kandang.

Tak hanya itu, sangat jarang terjadi kasus warga mengalami gangguan kesehatan karena keberadaan sapi yang seatap dengan rumah.

“Dulu warga sini pernah minta dibikinkan kandang komunal ke Pemerintah Desa Dompyongan. Kami siap menyewa. Tapi aspirasi itu tak pernah diakomodasi,” keluh Sumadi.

Sekretaris Desa (Sekdes) Dompyongan, Hariyadi, mengatakan keberadaan sapi satu atap dengan rumah merupakan tradisi masyarakat Dompyongan. Ia membenarkan warga pernah menyampaikan aspirasi untuk dibangunkan kandang komunal di tanah kas desa.

Namun, hal itu terganjal status tanah kas desa yakni zona hijau dan sawah lestari. “Semua tanah kas desa di Dompyongan masuk zona hijau dan sawah lestari. Yang masuk zona kuning hanya perumahan. Akibatnya tidak mungkin membangun kandang di zona hijau atau sawah lestari karena IMB tidak mungkin terbit,” terang dia.

Untuk mengatasi hal itu, Pemdes Dompyongan mengajukan usulan perubahan zonasi. Namun pengurusan perubahan itu harus sampai ke tingkat kementerian.

Pemdes baru mengurus berkas hingga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Klaten. “Kabarnya sudah diterima bupati tapi belum ada kabar. Kami ajukan Maret lalu. Yang diusulkan diubah adalah tanah kas desa seluas 2.000 meter persegi di Dukuh Banjarjo,” beber Hariyadi.