Pengaspalan Jalan Desa Tegalyoso Program Kotaku Klaten Tak Sesuai Spek

Jalan hasil pengaspalan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Dukuh Methuk Lor, Desa Tegalyoso, Klaten Selatan, Rabu (3/10 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
04 Oktober 2018 15:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengaspalan jalan di Desa Tegalyoso, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dinilai tak sesuai spesifikasi. Ketebalan aspal kurang dari dua sentimeter (cm).

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Desa Tegalyoso menerima bantuan program Kotaku senilai Rp500 juta pada 2017. Dana itu dialokasikan untuk pengaspalan jalan di Dukuh Methuk Lor dan Methuk Kidul RW 001, RW 002, dan RW 004.

Bantuan Kotaku juga dipakai untuk membeli delapan unit alat pemadam api ringan (APAR), membangun saluran air, dan membeli sepeda motor pengangkut sampah.

Sumber Solopos.com di desa tersebut menyebutkan pengaspalan jalan di Dukuh Methuk Lor dan Methuk Kidul lebih tipis dari spefisikasi awal.

Sementara itu saat dimintai konfirmasi, Kepala Desa (Kades) Tegalyoso, Nanang Widya Cahyanto, mengatakan semua dana Bantuan Dana Investasi (BDI) senilai Rp500 juta dari program Kotaku dialokasikan sesuai perencanaan seperti pengaspalan jalan, membangun saluran air, membeli APAR, dan membeli sepeda motor roda tiga untuk mengangkut sampah.

Ia menyebutkan dana itu bahkan tak dipotong pajak. “Tapi semua yang melaksanakan kegiatan itu faskel [fasilitator kelurahan], bukan Kades. Saya tidak tahu menahu soal realisasinya bagaimana,” ujar dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (3/10/2018).

Ia menyarankan Solopos.com menemui faskel untuk meminta konfirmasi lebih lanjut. Senior Fasilitator Kotaku Klaten, Ery Karyatno, menyatakan bukan faskel yang mengerjakan kegiatan melainkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di tiap RW.

Ia mnceritakan soal pengaspalan jalan memang sempat ada masalah karena bersinggungan dengan pengaspalan menggunakan dana desa di RW 005.

“Kotaku menuntaskan jalan Methuk Lor dan Methuk Kidul. Kemudian, ada gejolak warga yang menilai hasil pembangunan dana desa lebih jelek ketimbang Kotaku,” ujar dia di kantornya.

Ia memerinci alokasi dana program Kotaku di Desa Tegalyoso meliputi pengaspalan jalan sepanjang 3.670,57 meter persegi senilai Rp276.819.000, pengaspalan jalan 1.042,8 meter pesegi senilai Rp69.681.000, pengaspalan jalan 1.323 meter persegi senilai Rp 98.708.000.

Selain itu pembangunan saluran U 30 100 meter senilai Rp7.845.000, pengadaan APAR 8 unit senilai Rp8 juta, pengadaan motor sampah 1 unit senilai Rp22.000.000, dan BOP Rp5 juta. Total dana yang dialokasikan sebesar Rp500 juta.

Ia mengakui soal spesifikasi pengaspalan jalan memang ada yang dua cm lebih dan kurang dari dua cm. Tak hanya itu, di Tegalyoso juga ada masalah soal pencairan dana kegiatan.

Ia melakukan metode pencairan berbeda dengan desa lainnya yakni dana diserahkan kepada pihak ketiga di hadapan teller. “Kami lakukan itu karena dari awal banyak yang ‘dulu-duluan’ mendekati pemborongnya. Jadi kami bikin pemborong menerima uang dari KSM di hadapan teller,” beber dia.

Ia membenarkan soal dana BDI yang tak dikenai pajak. Dana itu bersumber dari pinjaman Bank Dunia yang tidak masuk dalam item kena pajak sebagaimana dana desa.

“Kotaku berbeda dengan Dana Desa. Setelah selesai ada yang meminta masukan dari masyarakat soal hasil-hasil pembangunan.”