2 Gunungan Ludes Dalam 5 Menit di Tradisi Buka Luwur Boyolali

Warga berebut gunungan hasil bumi pada rangkaian acara Buka Luwur di Desa Candisari, Ampel, Boyolali, (5/10 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
05 Oktober 2018 20:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Dua gunungan hasil bumi yang ditempatkan di depan pintu masuk Makam Syech Maulana Ibrahim Magribi di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Boyolali, dijaga beberapa pemuda berpakaian adat Jawa.

Sementara di belakang para pemuda itu, ratusan orang berdiri mengelilingi gunungan yang tersusun atas sayuran dan buah-buahan segar tersebut.

Orang-orang ini seolah tak mau ketinggalan untuk mengambil sebagian dari gunungan yang memang akan dipersembahkan bagi mereka jika saatnya tiba.

Sekitar pukul 09.40 WIB pada hari Jumat (5/10/2018) itu, mereka mulai mengucapkan “Amiin” ketika pengeras suara memperdengarkan doa yang mulai dibacakan Pitoyo, tokoh agama setempat.

Akhir doa inilah yang menjadi pertanda waktu gunungan boleh diperebutkan. Belum tuntas Pitoyo membacakan kalimat terakhir doanya, warga sudah merangsek dan menyela di antara para pemuda penjaga.

Mereka pun mulai mengambil apa saja yang dapat diraih tangan-tangan mereka. Sementara itu, sang pemuda pun yang kuasa menghalau pengunjung yang datang ke lokasi itu dalam rangkaian acara tradisi tahunan buka luwur tersebut.

Bahkan para pemuda ini membantu mengambil bagian atas gunungan dan kemudian menyebarkannya ke arah pengunjung di kerumunan belakang.

Alhasil, kurang dari 5 menit, gunungan setinggi sekitar 2 meter tersebut ludes dan hanya menyisakan rangka serta beberapa buah dan sayuran di jalan yang terinjak-injak.

Orang yang mendapatkan bagian dari gunungan itu bergegas memasukkannya ke dalam tas atau tas plastik yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.

Salah satu pengunjung, Surati, warga Ampel, memperoleh seikat sawi, terung, dan beberapa wortel. Baginya, bagian dari gunungan pada tradisi tersebut membawa berkah.

“Nanti [sayuran] akan saya masak. Supaya segera dapat berkahnya,” ujarnya sambil bergegas meninggalkan lokasi bersama anggota keluarganya.

Sementara Saroji, juga warga Ampel, tidak kebagian gunungan. Karenanya, dia terpaksa mengambil janur yang menjadi aksesori tradisi.

“Gunungannya enggak dapat. Cuma dapat janur enggak apa-apa,” kata dia.

Tradisi buka luwur atau mengganti kain penutup makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi ini masih terus dilestarikan warga setempat.

Ritual tahunan yang diselenggarakan tiap tanggal 20 bulan Sura ini selalu diikuti ribuan warga masyarakat yang datang tak hanya dari Boyolali, tetapi juga dari daerah lain di sekitarnya, seperti Salatiga dan Magelang.