Jasad Pria Klaten Menggantung di Pohon Beringin, Kondisinya Bikin Miris

Sukarelawan dan polisi mengevakuasi jasad Siswadi yang ditemukan menggantung di pohon beringin kompleks makam Sorowijan, Desa Taskombang, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jumat (5/10 - 2018) siang. (Istimewa)
06 Oktober 2018 17:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Siswadi, 43, warga Desa Taskombang, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tubuh menggantung di pohon beringin kompleks makam setempat, Jumat (5/10/2018) siang.

Siswadi diduga sudah meninggal dunia empat hari sebelum ditemukan warga.

Informasi yang dihimpun, jasad Siswadi kali pertama ditemukan dua warga yang sedang membersihkan kompleks makam di Dukuh Sorowijan, Desa Taskombang.

Mereka melihat sesosok pria menggantung dengan leher terjerat akar gantung pohon beringin pada ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah. Melihat temuan itu, warga lantas melapor ke Polsek Manisrenggo.

Polisi yang mendatangi lokasi bersama tim dari Puskesmas Manisrenggo mengevakuasi jasad Siswadi. Proses evakuasi dibantu sukarelawan dan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten.

Salah satu anggota tim reaksi cepat (TRC) BPBD Klaten, Dika, menjelaskan seluruh kulit Siswadi menghitam dan tercium bau menyengat.

“Proses evakuasi dibantu sukarelawan dari Manisrenggo. Untuk menurunkan tubuhnya itu harus hati-hati karena sudah rapuh. Sebanyak empat orang naik ke pohon sementara lainnya berada di bawah pohon untuk menahan tali yang sudah terikat dengan kantong mayat guna menampung jasad korban. Ketika akar gantung pohon diputus, jasad korban langsung masuk kantong,” jelas Dika saat berbincang dengan solopos.com, Sabtu (6/10/2018).

Dika menjelaskan saat ditemukan menggantung, korban membawa dua tas pada bagian depan dan belakang tubuhnya.

“Untuk mengecek isi tas itu tidak memungkinkan karena kondisi jasadnya sudah rapuh,” urai dia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim puskesmas tak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh Siswadi. Ia diperkirakan sudah meninggal dunia empat hari sebelum ditemukan.

Kepala Desa Taskombang, Aris Sumarsono, mengatakan Siswadi selama ini tinggal bersama ayahnya, Wakijo. 

“Kondisinya memang mengalami gangguan kejiwaan. Biasanya juga menghilang selama beberapa hari kemudian pulang,” jelas Aris.

Ia menjelaskan makam yang menjadi lokasi kejadian menggantung berdekatan dengan permukiman. Hanya, pohon yang menjadi tempat menggantung berada di tepi makam dan berdekatan dengan sungai.

“Korban langsung dimakamkan bersama kantong mayat setelah dievakuasi karena kondisinya tidak memungkinkan untuk dimandikan,” katanya.