9 Tahap Membatik Sragen Disakralkan, Harga Tembus Rp40 Juta

Seorang buruh batik mencanting kain putih bermotif di Dukuh Jantran, Desa Pilang, Masaran, Sragen, Sabtu (6/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
07 Oktober 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Suara musik bambu dan kentungan kayu berpadu dengan kendang dan gong mengalun harmonis. Siapa pun yang mendengar terasa ingin menggoyangkan badan. 

Ratusan orang yang semula berkerumun di 44 stan bazar batik dan kuliner tradisional mendadak mengalihkan perhatian ke depan panggung. Belasan warga dan juru kamera pun ikut berkerumun. 

Perhatian mereka tertuju pada Suwanto Abdul Rahim, laki-laki paruh baya dengan pakaian putih lengkap dengan atribut belangkon dan jarit. Mantan Kepala Desa (Kades) Pilang, Masaran, Sragen, itu mulai membacakan rangkaian upcara adat istiadat membatik sragenan lintas generasi di simpang tiga Dukuh Jantran, Pilang, Masaran, Sragen, Sabtu (6/10/2018) itu. 

Setidaknya ada sembilan prosesi atau tahapan membatik khas sragenan peninggalan leluhur juragan batik di Pilang.

Para warga yang terlibat dalam prosesi adat tersebut sudah bersiap. Puluhan buruh batik membentuk kelompok dengan anggota tujuh orang per kelompok. 

Mereka terbagi atas enam kelompok yang masing-masing berkumpul membentuk lingkaran dengan tungku malam sebagai porosnya. Kain bermotif pun dipajang pada tiang seperti gawang sepak bola yang panjangnya 1 meter dan tingginya 50 cm. 

Para perempuan buruh batik mulai beraksi mencanting. Di sisi lain, para warga laki-laki mewarnai kain bermotif yang sudah dicanting dengan menggunakan warna alami. 

Tanaman indigovera dijadikan bahan warna biru dongker menjadi pilihan warna dasar. Daun indigovera itu harus direndam sehari semalam untuk menghasilkan warna yang pekat. 

Pewarnaan lainnya, yakni warna sogan atau cokelat diambilkan dari rendaman kayu dan kulit pohon tingi, teger, dan jambal yang masih banyak ditemukan di Pilang. 

“Untuk mendapatkan warga sogan tua harus diwarnai dengan 20 kali proses. Kemudian warna bisa dikunci dengan tawas, kapur, dan tanjung,” ujar Suwanto.

Suwanto dan para juragan batik di Pilang sengaja menggelar adat istiadat tersebut supaya warisan leluhur tidak ditinggalkan dengan kecanggihan teknologi masa kini. 

Proses membatik yang lama karena menggunakan bahan alami itu memiliki nilai. Para pendahulu itu saat membatik selalu diawali dengan doa dan selama prosesi sering kali diiringi zikir dan kidungan. 

“Maka tidak aneh bila hasilnya berupa batik tulis itu harganya mahal, yakni Rp5 juta-Rp40 juta per potong,” tambahnya.

Penggunaan warna alam, teknik templong dan kerok sudah ditinggalkan juragan batik generasi masa kini.  Teknik membatiknya, bagi Suwanto, lebih instan sehingga dalam perkembangan teknis membatik bervariasi mulai dari tulis, cap, cabut, kombinasi cap-tulis, kombinasi cabut-cab, hingga akhirnya printing. 

Harga batik semi tulis sekarang, sebut dia, hanya Rp500.000-Rp1,5 juta per potong. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Suwardi, ikut mencoba mencanting. 

Ia duduk di antara kerumukan perempuan buruh membatik. Meskipun masih kaku dan tidak tahu teknis canting, aktivitas Suwardi menjadi perhatian pengunjung. 

Perempuan bule asal Belanda, Jeanine, 43, yang sibuk mengabadikan momentum tersebut dan ponsel pintarnya pun jadi perhatian warga. Tak sedikit warga yang meminta foto bersama Jeanine yang datang bersama suaminya, Adi Nurjadi. 

“Saya suka batik, terutama batik dengan motif-motif alam,” ujarnya saat ditanya wartawan.

Di Jantran ada 25 juragan batik sedangkan d seluruh Desa Pilang ada 90-an juragan batik. Jumlah buruh batiknya lebih banyak bisa mencapai ratusan orang dengan upah harian maupun borongan. 

Siti Alfiah, 47, seorang buruh batik asal Jantran RT 028, menjadi buruh batik sudah lama. Ia memilih jadi buruh borongan dengan upah Rp70.000/potong.

“Istilahnya buruh canting. Untuk motif sekar jagat yang sulit dan butuh waktu sepekan. Yang paling mudah motif sidoluhur, paling 2-3 hari selesai. Saya pilih borongan karena bisa jadi sampingan. Kalau harian lebih banyak upahnya, Rp40.000/hari, tapi harus masuk pabrik,” katanya.