Habis Demo, Warga Nguter Dirikan Tenda di Depan PT RUM Sukoharjo

Persatuan Perempuan Pejuang Lingkungan (P3L) berunjuk rasa di PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Nguter, Sukoharjo, Senin (8/10 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
08 Oktober 2018 16:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Ratusan warga yang tergabung dalam Persatuan Perempuan Pejuang Lingkungan (P3L) tak langsung membubarkan diri seusai berunjuk rasa di depan pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM), Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Senin (8/10/2018).

Mereka mendirikan tenda dari terpal dan berniat bertahan di tempat itu sampai tuntutan mereka terpenuhi. Mereka menuntut PT RUM menghormati perintah Bupati Sukoharjo serta hasil kesepakatan dengan warga pada aksi demo sebelumnya, yakni menghentikan uji coba produksi.

Para perempuan warga Nguter terdampak limbah pabrik PT RUM itu berdemo pada Senin itu lantaran masih mencium bau busuk yang diduga dari limbah pabrik pembuat rayon itu.

Pantauan Solopos.com, Senin, ratusan wanita yang didominasi kalangan ibu-ibu mendatangi pabrik sekitar pukul 09.00 WIB. Sejumlah wanita membentangkan spanduk penolakan PT RUM beroperasi lantaran menimbulkan limbah udara yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Sementara sejumlah perempuan lainnya berorasi di depan halaman pabrik. Aksi unjuk rasa itu mendapat penjagaan ketat aparat kepolisian.

Polisi itu disebar di sejumlah lokasi seperti di gerbang pintu dan kantor administrasi PT RUM. Mereka meminta agar manajemen PT RUM mematuhi hasil kesepakatan dengan warga untuk menghentikan uji coba produksi per 7 Oktober.

“PT RUM sudah mengingkari janji. Mereka telah membuat kesepakatan bakal menghentikan uji coba sementara produksi mereka hingga 7 Oktober. Namun, hingga sekarang, warga masih mencium bau busuk,” kata Siti, warga Kecamatan Selogiri, Wonogiri, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Para wanita itu lantas mendirikan tenda terpal di halaman pabrik. Mereka bertahan di tenda terpal sembari tetap menyampaikan aspirasinya. Bahkan, mereka menunaikan salat berjamaah di bawah sengatan sinar matahari.

Mereka bakal bertahan di depan pabrik hingga aspirasinya dipenuhi oleh manajemen PT RUM. “Kami bakal melakukan aksi lanjutan jika PT RUM masih melakukan uji coba produksi. Warga tak kuat mencium bau busuk dari limbah pabrik. Kasihan wanita lanjut usia [lansia] dan anak-anak,” ujar dia.

Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL), Ari Suwarno, mengatakan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, telah menerbitkan surat permintaan penghentian sementara uji coba produksi lantaran masih menimbulkan limbah udara.

Praktiknya, warga masih mencium bau tak sedap yang diduga berasal dari pabrik. “Warga di Desa Manisharjo, Kecamatan Bendosari, mencium bau busuk pada Senin sekitar pukul 09.00 WIB. Ini sudah melewati batas waktu uji coba produksi sesuai hasil kesepakatan bersama,” papar dia.

Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, menyatakan berbagai upaya telah dilakukan PT RUM untuk menghilangkan bau mulai dari memasang continuois emission monitoring system (CEMS), web scrubber, dan jaringan perpipaan yang ditanam di tanah.

Manajemen PT RUM telah bekerja ekstra keras menghilangkan limbah udara. Mesin produksi di pabrik telah dimatikan setelah Bupati menerbitkan surat beberapa waktu lalu.

“Ada 12.000 sambungan perpipaan dan 4.000 keran di kompleks pabrik. Ini menunjukkan kompleksitas PT RUM. Tak ada lagi produksi, mesin produksi sudah mati. Nah, bau yang tercium warga adalah sisa-sisa produksi,” kata dia.