Siswa SD Boyolali Ini Hafal Teori Penyelamatan Diri dari Gempa 

Siswa SD di Kecamatan Sawit, Boyolali, mengunjungi Monumen Gempa 2006 di Desa Cepokosawit, Kecamatn Sawit, Boyolali, Sabtu (6/10 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
08 Oktober 2018 08:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Serangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Indonesia membuat sebagian guru terpanggil untuk mengingatkan kembali murid mereka tentang cara menyelamatkan diri dari bencana tersebut.

Salah satunya dilakukan para guru di SDN Kemasan 1 dan SDN Cepokosawit 2, Kecamatan Sawit, Boyolali, dengan mengajak murid mereka berkunjung ke Monumen Gempa 2006 di Cepokosawit, Sabtu (6/10/2018).

Di monumen tersebut, para siswa mendapatkan informasi mengenai cara penyelamatan diri saat gempa dari pemandu monumen setempat. Mereka juga dikenalkan dengan seimograf atau alat pendeteksi gempa.

Di monumen itu juga terpasang foto-foto kondisi Desa Cepokosawit pascagempa 2006 lalu sehingga siswa mendapat gambaran lebih luas tentang sisi lain bencana alam tersebut.

Guru SDN Cepokosawit 2, Rohmat Pudwati, berharap para siswa akan lebih siap menghadapi situasi darurat jika benar-benar terjadi gempa bumi di tempat mereka tinggal. 

“Harapannya anak-anak selalu ingat cara-cara yang harus dilakukan saat terjadi gempa sehingga mereka bisa menyelamatkan diri,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, sejumlah siswa mengaku selalu ingat teori penyelamatan diri saat ada gempa yang diberikan guru dan orang tua mereka. Namun dengan kunjungan ini mereka jadi merasa lebih yakin dan lebih punya tekad untuk menyelamatkan diri jika terjadi gempa ketimbang pasrah dengan keadaan.

“[Sebelumnya] Sudah tahu sih. Kalau ada gempa dan sedang berada di ruangan, sebisa mungkin lari ke luar dan mencari tempat lapang,” kata salah satu siswa kelas VI SDN Kemasan 1, Fabiano Ainu R.

Teman sekelas Fabiano, Rayhan Aditya W., menambahkan jika tak memungkinkan berlari saat gempa, dia harus berlindung di bawah benda-benda yang sekiranya kuat menahan reruntuhan. 

“Sudah hafal. Kalau tidak sempat lari ya berlindung di bawah meja,” kata dia diiyakan teman lainnya, Fahri.

Sementara itu, pemandu kegiatan, Suratman, mengatakan pembekalan itu sangat penting untuk semua orang, termasuk anak-anak agar mereka mampu menyelamatkann diri jika terjadi gempa bumi. 

“Kami ingin melakukan penekanan-penekanan kepada anak-anak supaya mereka lebih ingat cara menyelamatkan diri saat terjai gempa bumi,” kata dia.

Sementara itu, Monumen Gempa 2006 tersebut dibangun pada 2016 dan diprakarsai warga setempat, Sukoyo. Setahun kemudian atau 2017, Sukoyo kembali memprakarsai pembangunan museum di kompleks monumen tersebut.