Solopos Hari Ini: Nasib GTT Beda Daerah, Beda Nasib

Harian Umum Solopos edisi Selasa (9/10 - 2018).
09 Oktober 2018 10:30 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Nasib guru tidak tetap/pegawai tidak tetap (GTT/PTT) berbeda-beda di wilayah Soloraya. Anggaran daerah untuk gaji GTT/PTT juga berbeda-beda. Di Wonogiri, lebih dari 6.000 GTT/PTT TK, SD, dan SMP negeri di Wonogiri yang menginduk Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) mogok kerja selama 21 hari sekolah mulai Senin-Rabu (8-31/10/2018).

Aksi tersebut berskala nasional, tetapi gerakan di Wonogiri digelar sepekan lebih cepat dari instruksi pengurus pusat. Perwakilan Forum GTT/PTT Wonogiri beraudiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Siswanto; Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD, Mahmud Yunus; Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, Gino, dan sejumlah guru di Ruang Rapat Disdikbud, Senin (8/10/2018), membahas aksi mogok kerja.

Aksi mogok kerja GTT/PTT di Wonogiri itu menjadi berita utama di Harian Umum Solopos edisi hari ini, Selasa (9/10/2018). Berita tersebut bisa dibaca secara lengkap di E-Paper Solopos.

Selain itu, halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini juga menyajikan berita terbaru tentang perkembangan evakuasi korban gempa bumi di Sulawesi Tengah. Berikut cuplikannya.

Kades Lapor 5.000 Warga Tertimbun

Tim evakuasi bekerja keras untuk mencari korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya di wilayah Petobo dan Balaroa, Kota Palu. Dalam enam jam, tim evakuasi menemukan belasan korban di Petobo.

Mereka berkejaran dengan waktu karena masa tanggap darurat dan pencarian korban akan berakhir Kamis (11/10/2018). Berdasarkan laporan lisan kepala desa Petobo dan Balaroa kepada Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), terdapat 5.000 warga yang tertimbun di dua desa itu.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada kabar utama tentang kasus pemerasan di Solo. Berita pembunuhan di Boyolali juga menjadi sorotan utama pada halaman Soloraya di Harian Umum Solopos edisi hari ini.

Saber Pungli Amankan Bonoloyo

Ratusan pengemis di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bonoloyo, Kadipiro, Banjarsari dikumpulkan tim Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Polresta Solo Senin (8/10/2018). Mereka dikumpulkan untuk diberikan pembinaan setelah kedapatan memeras peziarah di TPU Bonoloyo.

"Kami menerima laporan dari warga maraknya pengemis yang meminta uang secara paksa pada peziarah. Laporan tersebut melalui pesan singkat nomor aduan Saber Pungli dan surat kaleng," ujar Ketua Tim Saber Pungli Polresta Solo, AKBP Andy Rifai, kepada wartawan di Mapolresta Solo, Senin (8/10/2018).

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Istri Disebut Meninggal Mendadak Padahal Dibunuh

Handoko, 36, warga Gumukrejo, Desa Kebongulo, Kecamatan Musuk, Boyolali, menjadi tersangka pembunuh istrinya sendiri, Novi Septiyani, 22. Handoko dikenakan pasal berlapis untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Perbuatan Handoko terungkap setelah muncul desas-desus bahwa istrinya meninggal dunia tidak wajar. Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi mengatakan, sejak awal kematian Novi sudah mencurigakan karena berdasarkan penyelidikan, sebagian tetangga melihat adanya luka lebam pada jenazah korban.

Simak selengkapnya d: E-Paper Solopos.