Buat RTH di Baki, Pemkab Sukoharjo Targetkan Pembebasan Lahan Rampung Desember

Ilustrasi taman di ruang terbuka hijau di Sukoharjo. (Solopos/Trianto Hery Suryono)
09 Oktober 2018 16:41 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Pemkab Sukoharjo menargetkan pembebasan lahan untuk pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di Desa Kadilangu, Kecamatan Baki, rampung Desember 2018 mendatang.  Tim dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sukoharjo telah mengukur lahan yang lokasinya di seberang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jlopo.

Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sukoharjo, Ibnu Tjahyana, mengatakan hanya satu warga di Desa Kadilangu yang terdampak pembangunan RTH. Lokasi rumah warga di sekitar Simpang Tiga Jlopo. Namun, Ibnu belum mengetahui secara jelas luas lahan milik warga yang bakal dibeli Pemkab Sukoharjo.

“Kami masih menunggu hasil pengukuran tim BPN Sukoharjo. Hanya satu rumah yang ditempati satu keluarga sekaligus warung bakso,” kata dia, saat ditemui Solopos.com, Jumat (5/10/2018).

Negosiasi harga pembebasan lahan milik warga dilakukan langsung tim appraisal termasuk penawaran harga tanah. Pemkab tidak akan ikut campur dalam proses pembebasan lahan milik warga. Pemkab hanya membayar kompensasi pembebasan lahan yang telah disepakati warga.   

Ibnu meyakini proses pembebasan lahan milik warga rampung sebelum akhir 2018. “Targetnya [pembebasan lahan milik warga] rampung akhir tahun. Waktunya cukup mepet, tak lebih dari tiga bulan. Mudah-mudahan tak meleset dari target,” ujar dia.

Apabila proses pembebasan lahan milik warga rampung pada akhir tahun, proyek pembangunan RTH bisa dikerjakan pada 2019. Konsep RTH di Kadilangu tak berbeda jauh dibandingkan lokasi lain seperti Taman Pakujoyo di Kelurahan Gayam atau Taman Wijaya Kusuma di Kelurahan Sonorejo.

Masyarakat bisa bersantai bersama keluarga atau berolahraga di sekitar lokasi RTH. “Fungsinya sebagai paru-paru kota. Terlebih, kondisi arus lalu lintas di Simpang Tiga Jlopo cukup ramai dan padat. Harus ada taman untuk mempercantik kawasan itu,” papar dia.

Sementara itu, seorang pengguna jalan asal Desa Menuran, Kecamatan Baki, Angga, mengatakan kawasan Simpang Tiga Jlopo tak cukup hanya dibangun public space melainkan lampu lalu lintas atau  traffic lights. Di lokasi itu kerap terjadi kemacetan parah karena tingginya volume kendaraan bermotor terutama saat pagi hari dan petang hari. Angga meminta Pemkab juga memasang lampu lalu lintas untuk mengantisipasi kemacetan.