7 Korban Gempa Palu Asal Sragen Tak Diketahui Rimbanya

Waginem, 42, (kanan) berbincang dengan keluarganya di rumahnya, Desa Gabus, Ngrampal, Sragen, Selasa (9/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
09 Oktober 2018 20:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tujuh warga Sragen yang menjadi korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengan, hingga kini tak diketahui keberadaannya.

Sisanya sebagian sudah kembali ke Sragen, tepatnya ke Desa Gabus, Ngrampal, Srage, pada Minggu (7/10/2018). Salah satu warga tersebut, Waginem, 42, menolak kembali ke Kota Palu yang ditinggalinya bersama suami dan kedua anaknya selama 18 tahun.

Kenangan traumatis yang mendalam akibat gempa pada Jumat (28/9/2018) petang lalu terus membayanginya. Kendati suaminya, Suparno Widodo, 45, dan anak sulungnya mendesak kembali ke Kota Palu, Wagiyem ngotot tetap ingin tinggal di Jawa yang merupakan tanah kelahirannya.

“Suami saya itu punya nyawa dobel jadinya ingin kembali ke Palu. Saya masih trauma dan jangan sampai kembali ke Palu. Bencana yang dahsyat itu terus terbayang, apalagi saat melihat berita di televisi,” ujar Waginem saat berbincang dengan Solopos.com di kediaman keluarganya, Selasa (9/10/2018) siang.

Anak sulungnya berstatus mahasiswa semester VII Universitas Tadulako (Untad) Palu. Anaknya yang bungsu kelas XI SMA di Kota Palu.

Ia ingin kedua anaknya melanjutkan sekolah di Jawa tetapi bingung cara mengurusnya. Waginem dan keluarganya tiba di Sragen pada Minggu lalu.

Dari Kebayanan Gabus Wetan terdapat 18 orang yang merantau ke Palu sebagai pedagang. Tujuh orang di antaranya menghilang dan belum ditemukan gerangan mereka berada sampai sekarang.

Pemerintah Desa Gabus sudah mendata warganya yang hilang saat terjadi gempa dan tsunami di Palu, yakni Edi Mustofa, 32; Septian Bagas Priambodo, 19; Narsi, 60; Sugiyanti, 28; Alila, 2; Sigit Saputra, 35; dan Alif, yang merupakan keponakan Waginem.

“Keluarga mereka hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban dari Tuhan untuk bisa kembali ke Sragen. Sampai sekarang belum diketahui kabarnya, entah sudah meninggal atau masih hidup. Hanya doa semoga masih selamat,” katanya.

Waginem masih ingat saat goncangan gempa 7,7 SR melanda Palu. Ia berlari tak ingat anak dan suami. Semua hanya mencari keselamatan hidup sendiri.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Waginem berhasil bertemu anak dan suaminya saat di masjid penampungan pengungsi sekitar pukul 19.00 WIB.

Pada pagi harinya, banyak warga yang meninggal di lokasi gempa dan tsunami sepanjang pantai. Suparno dan anak sulungnya mencari sanak saudaranya.

Ia mencari saudara di antara mayat-mayat korban gempa dan tsunami yang dievakuasi sukarelawan. Pencarian selama dua hari tak membuahkan hasil.

Tantik, 30, yang masih kerabat Waginem hanya bisa bersyukur karena tidak ikut suaminya, Nursalim, 37, kembali ke Palu sejak melahirkan anaknya. Ia sering mendapat cerita dari suaminya saat terjadi bencana itu.

“Suami saya bilang suara gelombang tsunami itu terdengar seperti pesawat. Gemuruh. Saat itulah ada yang teriak awas tsunami. Semua berlari dan suami saya selamat tetapi sampai sekarang masih di Palu,” katanya.

Banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan mitos warga lokal, seperti adanya buaya putih yang tiba-tiba muncul. Selain itu juga dikaitkan dengan ritual-ritual lainnya yang hanya diketahui penduduk asli Kota Palu.