Puluhan Ibu-Ibu Nguter Datangi DLH Sukoharjo Adukan PT RUM

Warga Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo, mengisi formulir pengaduan dugaan pencemaran lingkungan di Kantor DLH Sukoharjo, Rabu (10/10 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
10 Oktober 2018 17:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Puluhan warga Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, yang didominasi kalangan ibu-ibu mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Rabu (10/10/2018).

Kedatangan mereka untuk mengadukan PT Rayon Utama Makmur (RUM) yang masih saja menghasilkan limbah dengan bau yang menyengat. Mereka tak kuat menghirup bau tak sedap tersebut.

Pantauan Solopos.com, Rabu, puluhan warga itu tiba di Kantor DLH Sukoharjo sekitar pukul 13.30 WIB. Mayoritas warga merupakan kalangan ibu-ibu dan warga lanjut usia (lansia).

Sejumlah wanita terlihat membawa anak yang masih balita. Mereka lantas mengisi formulir pengaduan dugaan pencemaran lingkungan di aula kantor DLH.

Masing-masing warga membawa selembar kertas berisi foto dugaan pencemaran lingkungan yakni limbah udara dari pabrik PT RUM.

“Saya benar-benar tidak kuat tinggal di rumah. Bau tak sedap dari limbah itu lebih parah dibanding pada 2017. Saya sudah mengungsi ke balai desa dan kantor kecamatan lantaran tak kuat menghirup bau tak sedap dari pabrik,” kata Sarmi, warga Desa Gupit, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Sarmi dan ratusan warga lainnya telah menyampaikan aspirasi saat berunjuk rasa di PT RUM pada Senin (8/10/2018). Aksi unjuk rasa mereka tempuh lantaran mayoritas warga terdampak limbah udara adalah kaum wanita.

Bau tak sedap itu mengakibatkan pusing, mual-mual, dan sesak napas. Wanita lanjut usia (lansia) ini meminta manajemen PT RUM menghentikan uji coba produksi lantaran menimbulkan bau limbah udara yang dihirup warga setempat.

“Jangankan masker penutup hidup, selimut tebal tak mempan karena saking menyengatnya limbah udara. Pemerintah harus bertindak tegas menghentikan uji coba produksi,” tutur dia.

Sejatinya, permintaan warga setempat tak muluk-muluk. Mereka hanya ingin menghirup udara segar dan bisa beraktivitas di rumah dengan nyaman. Apabila menghirup bau tak sedap selama berhari-hari bisa mengganggu kesehatan tubuh.

“Kami hanya rakyat biasa, tak punya apa-apa. Namun, kami berani berjuang menuntut udara bersih sebagai hak manusia,” timpal warga lainnya, Suparti.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Sukoharjo, Agus Suprapto, menyatakan ada 30 aduan terkait dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT RUM. Materi aduan bakal ditelaah secara mendalam selama maksimal tiga hari.

Kemudian, hasil kajian itu bakal dilaporkan kepada Bupati untuk ditindaklanjuti. Agus tak mempermasalahkan apabila ada warga lain yang mengadu terkait dugaan pencemaran lingkungan.