DLH Sukoharjo Sebut Bau Limbah PT RUM Sudah Berkurang Jauh

Warga Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo, mengisi formulir pengaduan dugaan pencemaran lingkungan di Kantor DLH Sukoharjo, Rabu (10/10 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
10 Oktober 2018 21:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo menilai bau tak sedap dari limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) sudah berkurang jauh dan bersifat sporadis.

Sementara emisi gas hidrogen sulfida (H2S) yang dihasilkan selama uji coba produksi hanya 5,6 kg/ton serat rayon.

Kepala DLH Sukoharjo, Djoko Sutarto, mengaku prihatin dengan munculnya kembali bau tak sedap dari uji coba produksi yang lakukan PT RUM dalam beberapa waktu terakhir.

Hal itu mengganggu aktivitas warga setempat terutama kalangan ibu-ibu dan warga lanjut usia (lansia). Kendati demikian, Djoko meminta manajemen PT RUM maupun warga menghormati surat Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya.

“Saya belum bisa memberikan statement apakah uji coba produksi PT RUM dilanjutkan atau tidak. Manajemen PT RUM telah berusaha sangat keras menghilangkan bau limbah udara. Namun, masih ada bau yang tercium warga,” kata dia saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (9/10/2018).

Djoko mengaku mengelilingi area pabrik untuk memastikan apakah bau tak sedap benar-benar menyengat hidung atau tidak pada Senin (8/10/2018) pagi. Dia menyebut bau itu bersifat sporadis lantaran hanya tercium beberapa saat.

Progres pengurangan bau limbah pabrik itu cukup signifikan. Dia tak memungkiri masih muncul bau tak sedap dari limbah pabrik. Namun, radius bau itu sudah berkurang drastis dibanding pada 2017.

“Memang ada laporan warga yang menghirup bau tak sedap. Setelah saya datang ke lokasi sudah tidak bau. Jadi sifatnya sporadis, hanya kadang-kadang dan tak seperti dahulu,” ujar dia.

Djoko menyerahkan upaya penanganan limbah udara kepada manajemen PT RUM sesuai sanksi administrasi yang diberikan Bupati Sukoharjo pada Februari. Misalnya, memasang continuois emission monitoring system (CEMS) dan web scrubber yang berfungsi menangkap gas bau.

Hal ini telah dilakukan manajemen PT RUM untuk menghilangkan bau limbah udara. “Saat ini cooling down dahulu. Namun, jika manajemen PT RUM bisa memastikan tak muncul bau, uji coba produksi bisa dilanjutkan. Namun harus kembali mengundang unsur forum komunikasi pimpinan kecamatan [forkopincam] dan warga setempat,” tutur dia.

Sementara itu, konsultan kualitas udara dan ambien Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Deni Hanafiah, mengungkapkan baku mutu emisi gas H2S yang ditetapkan pemerintah yakni 30 kg per ton serat rayon.

Sementara emisi gas H2S yang dihasilkan PT RUM selama masa uji coba produksi maksimal 5,6 kg per ton serat rayon. Deni menjelaskan kegiatan industri wajib menjaga kualitas lingkungan hidup.

Manajemen PT RUM telah memasang tiga alat web scrubber untuk menyerap dan menghilangkan bau limbah. “Bisa juga dengan memasang CEMS di sumber emisi dan continuois ambient monitoring system [CAMS] di sekitar pabrik,” papar dia.

Sementara itu, Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL), Ari Suwarno, menyatakan warga masih mencium bau tak sedap yang menyengat hidung pada Selasa. Warga terutama kaum wanita tak kuat menghirup limbah udara.

Ari meminta manajemen PT RUM menghentikan uji coba produksi jika masih menimbulkan bau limbah udara.