Puluhan Korban Bencana Palu Mengadu ke Pemkab Sragen

Waginem, 42, (kanan) berbincang dengan keluarganya di rumahnya, Desa Gabus, Ngrampal, Sragen, Selasa (9/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
10 Oktober 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Perwakilan para korban gempa dan tsunami Palu, Sulteng, asal Sragen mendatangi Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Rabu (10/10/2018).

Mereka mengadukan nasib dan meminta ada kepedulian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen, terutama untuk biaya hidup, santunan keluarga yang meninggal dunia, hingga mengurus pindah sekolah ke Sragen.

Ada 10 orang perwakilan yang datang ke Kantor Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen. Namun hanya tiga orang di antaranya yang masuk ke ruang kerja Sekda Tatag Prabawanto untuk mengadukan nasib mereka.

Rombongan perwakilan para korban bencana Palu itu dikoordinasi Sugiyanto, salah satu korban selamat asal Kepok Dulang, Wonokerso, Kedawung, Sragen.

Sugiyanto mencatat ada 92 orang korban gempa Palu yang selamat maupun luka-luka dan diduga meninggal dunia karena tidak diketahui rimbanya sampai sekarang.

“Kedatangan kami bertemu Pak Sekda untuk meminta solusi atas musibah yang dialami puluhan korban bencana Palu. Ada tiga hal yang kami sampaikan ke Pak Sekda, yakni bagaimana biaya hidup para korban selamat? Bagaimana pula keluarga korban yang meninggal dunia? Meminta solusi atas anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah di Sragen,” ujar Sugiyanto saat ditemui Solopos.com, Rabu siang.

Dia menyampaikan ada korban yang hendak melanjutkan pendidikan di kelas II SMP di Sragen ternyata ditolak masuk sekolah dengan alasan tidak ada kursinya.

Padahal mereka generasi muda yang membutuhkan masa depan lewat pendidikan. Dia meminta ada kebijakan dari Pemkab Sragen bagi para korban Palu agar bisa mengakses pendidikan.

Dia mencatat 7-8 orang belum ditemukan rimbanya dan diduga meninggal dunia serta empat orang dari 92 orang itu mengalami luka-luka.

“Pak Sekda akan mengakomodasi keinginan para korban Gempa Palu. Pak Sekda akan memverifikasi data para korban dulu karena ada delapan orang yang informasi bukan korban Palu. Nanti setelah data korban sudah valid akan dikumpulkan untuk bertemu Bupati,” tuturnya.

Suparno Widodo, korban gempa Palu asal Gabus Wetan, Gabus, Ngrampal, Sragen, mencatat jumlah korban yang belum ditemukan atau menghilang ada sembilan orang, yakni dari Gabus Ngrampal tujuh orang dan dari Klitik Karangtengah, Sragen, ada dua orang.

Kemudian korban yang luka-luka, sebut dia, tiga orang dari Asem, Jajar, Kedungupit, Sragen dan dua orang dari Cumpleng, Tangkil, Sragen.

Suwarno, 40, korban gempa Palu asal Ngagle RT 017/RW 016, Tenggak, Sidoharjo, Sragen, bersyukur karena selamat bersama istri dan empat anggota keluarganya.

“Saat gempa itu, kami enam orang terjebak di rumah. Saat mau berdiri jatuh lagi terus-terusan. Akhirnya, kami berjalan merangkak keluar rumah. Saya merangkah bersama anak saya yang berumur tiga tahun. Akhirnya, kami selamat. Kami pulang ke Sragen dengan menaiki pesawat Hercules milik TNI,” tuturnya.