Monumen Susu Tumpah Boyolali, Ternyata Ini Nama Aslinya

Pengguna jalan melintas di dekat Monumen Susu Tumpah di kawasan Pasar Kota Boyolali, Sabtu (6/10 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
10 Oktober 2018 15:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Monumen Susu Tumpah ternyata bukan nama asli monumen di kawasan depan Pasar Boyolali Kota yang baru kelar dibangun beberapa waktu lalu.

Nama asli monumen tersebut yang sebenarnya adalah Monumen Susu Murni. Selama ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali menyebut monumen itu dengan sebutan Monumen Susu Tumpah untuk memudahkan komunikasi dalam proses pembangunannya.

“Jadi, nama Monumen Susu Tumpah itu untuk memudahkan komunikasi dalam pekerjaan. Untuk memudahkan persepsi orang mengenai monumen itu,” ujar Kepala DLH Boyolali Totok Eko Y.P., Selasa (9/10/2018).

Menurutnya, dengan sebutan Monumen Susu Tumpah, orang akan mudah menggambarkan susu di dalam botol yang tumpah ke wadahnya/gelas.

Selanjutnya, setelah bangunan itu jadi seperti terlihat saat ini, monumen itu disebut Monumen Susu Murni. “Selanjutnya kami pakai nama Monumen Susu Murni lagi,” imbuhnya.

Dia menyamakan kemudahan penyebutan itu dengan proyek pembangunan bundaran simpang Kragilan (Alun-Alun Lor) dan bundaran simpang Asrikanto yang saat ini masih berjalan.

Menurutnya, simpang Kragilan yang berisi replikasi Borobudur, masjid Taj Mahal, Patung Spinx, dan Piramid bernama asli Bunderan Solidaritas. Sedangkan bundaran simpang Asrikanto yang berisi replikasi menara Eiffel, menara Pisa, dan patung Liberty diberi nama Bunderan Tiga Menara.

Seperti diketahui, monumen yang sempat membuat penasaran warga itu kini sudah terlihat bentuk keseluruhannya. Pantauan Solopos.com, pekan lalu, bangunan di kawasan simpang Pasar Kota Boyolali tersebut sudah lengkap, mulai dari botol, susu yang tertuang, serta gelas wadahnya.

Ketiga komponen utama monumen itu hampir semuanya berwarna putih, kecuali botol yang diberi variasi belang-belang warna hitam, mirip warna kulit sapi perah.

Selain itu, bangunan penyangga monumen yang berbentuk mirip kaleng susu dari peternakan sapi perah juga sudah jadi dan dicar warna hijau.

Sedangkan belasan hingga puluhan kaleng asli penampung susu sapi perah dipasang mengelilingi monumen tersebut.