Tangisan Wusiem Iringi Penggusuran Lahan HP 105 Solo

Suasana pembongkaran bangunan rumah warga di lahan HP No. 105 milik Pemkot Solo di Jebres, Kamis (11/10 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
11 Oktober 2018 16:15 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Isak tangis mengiringi penggusuran dan pembongkaran bangunan di lahan Hak Pakai (HP) No. 105 di Jebres, Solo, Kamis (11/10/2018).

Banyak warga yang menolak penggusuran oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Solo pada hari itu. Warga menghalangi petugas Satpol PP masuk ke rumah warga untuk mengeluarkan barang-barang mereka.

Salah satu warga, Wusiem, 64, sambil menangis menghampiri Kepala Satpol PP Solo, Sutarjo. Dia memohon-mohon agar penggusuran itu dihentikan. Dia mengatakan anaknya pagi itu menjalani operasi di Semarang.

“Nanti anak saya kalau pulang, tambah sakit bagaimana? Melihat rumah saya sudah rata dengan tanah, di mana hati nurani kalian semua? Tolonglah beri waktu untuk penggosongan barang di rumah saya,” ujarnya sambil terus menangis.

“Tolonglah saya, jangan digusur rumah saya Pak, kasian anak saya sedang operasi Pak. Nanti kalau pulang bagaimana jika kondisinya tambah buruk Pak,”ujarnya.

Sutarja menanggapi dengan menyarankan Wusiem pindah ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Soal biaya, nanti dibicarakan lebih lanjut dengan Wali Kota Solo.

“Ibu besok datang saja ke Balai Kota, tidak usah ramai-ramai, beberapa orang saja untuk matur kepada Bapak Wali Kota supaya diberi dispensasi tinggal di rusunawa. Ibu sudah tidak punya rumah. Nanti Bapak Rudy [Wali Kota] akan memberikan solusi terbaik untuk semua warga jika bisa dibina dengan baik,”ujar Sutarja.

Tangisan dan teriakan pecah saat petugas Satpol PP mengosongkan rumah milik Opec. Banyak warga yang memblokade jalan masuk ke rumah Opec agar tidak digusur.

“Kalian pikir kami di sini hewan?!” teriak Opec di sela-sela mendorong personel Satpol PP, Agus Sis, di depannya.

“Kami ini rakyat miskin, kalau kami kaya seperti pejabat saya tidak akan mungkin tinggal di sini,”ujarnya.

Agus Sis meneruskan perintah agar para personel Satpol PP melanjutkan pengosongan rumah Opec. “Tolong! Ayo semua Satpol PP kerjakan, jangan menghiraukan saya,” ujarnya saat didorong warga karena melanjutkan eksekusi.

Banyak warga yang diamankan polisi karena mereka menghalangi petugas membongkar rumah Opec. Mereka sudah menganggu jalannya pengosongan rumah milik Opec, bahkan istri Opec membanting pintu sebagai luapan kemarahannya.

“Kalian semua tidak pernah merasakan menjadi rakyat miskin,” ujarnya sambil menangis

Opec dan istrinya diamankan polisi agar tidak mengganggu jalannya pengosongan rumah. Eksekusi berjalan lancar sejak para warga yang mengganggu eksekusi diamankan polisi.

Sekitar pukul 12.30 WIB, Satpol PP selesai membersihkan bangunan warga menggunakan alat berat. Yang terlihat kini hanyalah tumpukan tanah di sepanjang Jebres Tengah.