Usaha Angkuta Solo Hancur, Pendapatan Sopir Anjlok  

Angkutan pengumpan (feeder) Batik Solo Trans (BST) terparkir di kompleks Terminal Tirtonadi, Solo, Jumat (1/12/2017). Dinas Perhubungan (Dishub) Solo akan menyerahkan kewenangan pengelolaan 30 feeder BST kepada dua koperasi angkuta yakni Trans Roda Sejati (TRS) dan Bersama Satu Tujuan (BST). - M. Ferri Setiawan
11 Oktober 2018 22:01 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Pengemudi angkuta koridor 9, Darmanto, menduga hal itu bisa disebabkan makin banyak pelanggan angkuta yang beralih memanfaatkan layanan ojek online maupun taksi online. Sopir angkuta kini hanya mengandalkan penumpang warga berusia tua yang cenderung kesulitan menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.

Pelajar yang dulu jadi sasaran empuk angkuta, kini juga tak memakai moda transportasi umum Solo itu. Mereka beralih memanfaatkan ojek online  untuk berangkat dan pulang dari sekolah.

“Sekarang siapa yang mau naik angkuta? Orang-orang yang bisa pegang smartphone rata-rata ya pindah pilih ojek online atau taksi online karena mudahTinggal klik, sopir datang menghampiri,” jelas Darmanto saat ditemui Espos di utara Terminal Pasar Legi, Kelurahan Setabelan, Banjarsari, Kamis (11/10/2018).

Penurunan jumlah penumpang tersebut mempengaruhi pendapatan sopir. Darmanto menyebut pendapatannya kini hanya sepertiga daripada 2016. Darmanto bercerita dua tahun lalu, dia bisa membawa pulang uang bersih Rp150.000/hari. Sekarang, Darmanto kesulitan mendapatkan penghasilan bersih Rp50.000/hari. Darmanto berharap pemerintah memperhatikan nasib para pengemudi angkuta. Darmanto ingin pemerintah memberikan subsidi dana untuk operasional angkuta.

“Sekarang kondisi usaha angkuta itu bukan parah lagi, tapi hancur. Kami terus bertahan karena tidak ada pekerjaan lain. Jika ada kesempatan mungkin saya dan teman-teman sudah meninggalkan pekerjaan ini [menjadi sopir angkuta],” jelas Darmanto.

Koordinator paguyuban sopir angkuta di koridor 9, Lendroyono, menyebut mereka membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk terus menghidupkan layanan angkutan umum. Dukungan yang diperlukan adalah peremajaan armada. Para pengemudi angkuta kuning berharap segera mendapatkan angkutan feeder (pengumpan) BST karena lebih diminati masyarakatPengemudi angkuta termasuk dirinya rela mengganti cat angkuta secara mandiri dari kuning menjadi biru lantaran tak kunjung mendapat bantuan feeder.

“Kami berharap Pemkot segera menyediakan armada feeder untuk dibagikan kepada semua pengemudi angkuta. Peremajaan armada ini perlu untuk menarik kembali minat masyarakat memanfaatkan angkuta,” ujar Lendroyono.

Ketua Koperasi Trans Roda Sejati (TRS), Triyono, sebelumnya mengakui 10 anggotanya beralih pekerjaan menjadi pengemudi taksi online. Mereka diizinkan menjadi pengemudi taksi online pelat hitam yang dikelola pengurus Koperasi TRS. Triyono mengklaim Koperasi TRS mendapatkan izin operasional taksi online dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dengan kuota lima taksi. Sedangkan lima taksi online lainnya, kata dia, belum mendapatkan izin operasional. TRS mengelola taksi online sebagai usaha pengembangan.