10 Desa Klaten Jadi Prioritas Penanganan Stunting, Mana Saja?

Ilustrasi stunting (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
11 Oktober 2018 12:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sepuluh desa di Kabupaten Klaten menjadi prioritas penanganan stunting atau kekerdilan. Salah satu prioritas yakni menggulirkan program diversifikasi pangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Joko Siswanto, mengatakan 10 desa itu yakni Desa Randusari dan Sanggrahan di Kecamatan Prambanan; Desa Sumyang, Granting, dan Titang di Kecamatan Jogonalan; Desa Tibayan dan Kayumas di Kecamatan Jatinom, Desa Keprabon di Kecamatan Polanharjo, Desa Gemblegan di Kecamatan Kalikotes, serta Desa Butuhan di Kecamatan Delanggu.

Desa-desa itu menjadi prioritas lantaran dinilai terdapat kasus stunting. “Datanya berasal dari pemerintah pusat. Sepuluh desa itu menjadi prioritas program dari DPKPP Klaten,” kata Joko saat ditemui seusai lokakarya Ketahanan Pangan di Gedung Sunan Pandanaran, Klaten, Rabu (10/10/2018).

Program yang dilakukan yakni dengan diversifikasi pangan, peningkatan ketahanan pangan, serta pemeliharaan ternak kecil seperti ayam atau bebek untuk konsumsi. “Pada 2019 kami programkan itu,” kata dia.

Joko menuturkan faktor kemiskinan tidak menjadi penyebab ada temuan stunting. Hal itu lebih pada kesalahan pola makan yang tidak memenuhi gizi seimbang.

“Makanya kami melakukan sosialisasi-sosialisasi bagaimana pemenuhan gizi yang benar,” urai dia.

Joko mencontohkan salah satu desa yang sudah mendapat program penanganan stunting dari DPKPP, yakni Desa Ngaren, Kecamatan Pedan. Programnya salah satuny dengan pembagian bibit pohon buah.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Sri Sundari Indriastuti, mengatakan 10 desa itu merupakan data dari Bappenas hasil pendataan pada 2013 silam.

Dari pemantauan yang sudah dilakukan, angka stunting di desa-desa tersebut menurun. “Bahkan ada salah satu desa yang saat ini tidak ada temuan stunting,” urai dia.

Sundari menuturkan kasus stunting di Klaten mengalami penurunan. Dari laporan serentak pada Februari lalu, angka stunting sekitar 8,5 persen dari sekitar 18.000 balita.

“Pendataan terakhir pada Agustus ada penurunan. Angka penurunannya sekitar 1 persen,” ungkapnya.

Upaya yang dilakukan untuk penanganan stunting, sebut Sundari, menuturkan ada sejumlah program selain bekerja dengan membagikan tablet penambah darah kepada pelajar SMA dan SMP.

Saat ini, pembagian tablet itu menyasar 27 sekolah. “Ketika masa remajanya sehat, tidak mengalami anemia nanti juga saat menjadi ibu sehat dan anaknya tidak mengalami stunting,” urai dia.

Selain pembagian tablet penambah darah, ada pelatihan kepada para penjual bubur di Klaten. Pelatihan dilakukan untuk menyajikan bubur sehat dan memenuhi unsur kelengkapan gizi.