Korban Gempa Palu Asal Karanganyar Pulang, Bagaimana Kondisi Mereka?

Sejumlah kepala dinas dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Karanganyar, Kamis (11/10/2018), mengumpulkan dan mendata warga asal Jumapolo yang terdampak bencana alam di Palu./Istimewa - Dokumentasi Dinas Kominfo Karanganyar
11 Oktober 2018 20:46 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Warga Karanganyar terdampak bencana alam gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah membutuhkan bantuan kebutuhan pokok.

Hal itu mengemuka saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengumpulkan 86 orang warga Jumapolo yang merantau ke Palu dan sekitarnya. Mereka dikumpulkan di salah satu rumah warga, Kamis (11/10/2018). Mereka pulang ke kampung halaman setelah bencana alam melanda Palu dan Donggala pada Jumat (28/9/2018). Mereka tiba di Karanganyar Selasa (9/10/2018).

Pemkab berencana menyalurkan bantuan tetapi langkah pertama yang diambil adalah mengidentifikasi warga terdampak bencana alam. Selanjutnya mendengar kebutuhan mereka. Tim identifikasi terdiri atas Dinas Sosial, Bagian Kesra, PMI, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan Kabupaten, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, dan lain-lain.

"Kami verifikasi warga terdampak bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. Dikumpulkan di rumah warga di Dusun Mojodipo, Desa Jatirejo, Jumapolo. Yang datang 86 orang. Kami verifikasi jumlah, berapa jiwa dalam satu keluarga, berapa yang akan kembali ke Palu dan menetap di Karanganyar, kebutuhan dalam waktu dekat untuk segera ditangani Pemkab," kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar, Agus Heri Bindarto, saat dihubungi Espos, Kamis (11/10/2018).

Menurut Agus, warga terdampak meminta bantuan sembako. Agus menjelaskan Pemkab segera memenuhi permintaan itu. Sejumlah dinas dan badan terkait berkoordinasi untuk memenuhi permintaan tersebut. "Koordinasi antardinas. Misal Dinsos beras diambilkan dari dana taktis bencana alam. PMI dan BPBD memberi lauk pauk, Baznas memberi dana, dan lain-lain. Nanti dikoordinasikan. Selain itu pendidikan dan seragam itu ditangani Disdikbud," jelas Agus.

Ditanya tentang rumah tinggal, Agus menyampaikan mereka tinggal di rumah sendiri maupun menumpang di rumah orang tua dan kerabat di Jumapolo. Saat ini, fokus Pemkab mengidentifikasi warga terdampak bencana di Palu yang tinggal di Jumapolo.

Sementara itu, salah satu warga terdampak bencana alam di Palu, Katijo, mengaku menumpang di rumah orang tua selama berada di Karanganyar. Rumah dan indekos miliknya di Palu porak poranda setelah dihantam bencana alam. Katijo menceritakan merantau ke Palu sejak 1994. Dia berjualan di Palu. Saat ditanya rencana ke depan apakah menetap di Karanganyar atau kembali ke Palu, dia belum dapat memastikan.

Status Katijo sudah tercatat sebagai warga Palu. Dia memiliki kartu keluarga (KK) yang dikeluarkan pemerintah setempat. "Kalau keluarga saya [istri dan dua anak] masih trauma. Ya menunggu Palu pulih. Di sana sekarang enggak bisa jualan. Ke sana paling mengurus aset kalau kondisi memungkinkan. Kalau saat ini kami butuh sembako, barang kebutuhan pokok selama di sini," tutur dia.