GTT/PTT Kembali Bekerja, KBM Wonogiri Normal Lagi

Ketua Forum GTT/PTT Wonogiri, Sunthi Sari (kanan), beraudiensi di Ruang Rapat Kantor Disdikbud Wonogiri, Senin (8/10 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
11 Oktober 2018 11:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Kegiatan belajar mengajar (KBM) di TK, SD, dan SMP negeri di Wonogiri sudah normal lagi sejak Rabu (10/10/2018).

Hal itu terjadi setelah para guru tidak tetap/pegawai tidak tetap (GTT/PTT) menghentikan aksi mogok kerja yang semula dijadwalkan sampai 31 Oktober. Mulai Rabu, GTT/PTT bekerja seperti semula.

Mereka mengakhiri mogok kerja lebih cepat karena pemerintah pusat mengakomodasi tuntutan-tuntutan mereka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri, Siswanto, kepada Solopos.com, Rabu, mengatakan KBM di seluruh satuan pendidikan dasar negeri di Wonogiri pulih kembali setelah lumpuh selama dua hari.

Dia berharap GTT/PTT kembali bekerja tak hanya hingga Sabtu (13/10/2018) mendatang. Dia tak memungkiri KBM di satuan pendidikan bergantung pada GTT.

Tanpa adanya mereka, KBM di sekolah tak berjalan. Keberadaan mereka bisa menggantikan guru PNS. Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) kekurangan banyak guru PNS.

Bupati Joko Sutopo sebelumnya menginformasikan kebutuhan guru PNS di Wonogiri mencapai 7.000 orang. Namun, saat ini jumlahnya hanya 3.000-an orang.

“Saya berharap pemerintah pusat merealisasikan aspirasi GTT/PTT. Sebenarnya persoalan ini sudah lama dan pemerintah pusat sudah memikirkan solusi. Namun, yang paling penting ada realisasi, tak hanya dipikirkan,” kata Siswanto saat dihubungi Solopos.com.

Menurut dia, tuntutan GTT/PTT serius dan gerakan mereka sangat terorganisasi dari tingkat kecamatan hingga pusat. Buktinya, saat merasa upaya mereka selama ini tidak membuahkan hasil, seluruh GTT/PTT menggelar aksi mogok kerja.

Bahkan, aksi di Wonogiri sepekan lebih cepat dari instruksi pengurus forum tingkat pusat. Setelah pemerintah pusat merespons positif, mereka menghentikan aksi.

Bukan tidak mungkin mereka kembali mogok kerja jika merasa tak kunjung diberi kejelasan.

“Informasinya, pengurus forum GTT/PTT pusat menginstruksikan seluruh GTT/PTT menggelar aksi mogok kerja secara nasional mulai Senin pekan depan sampai akhir Oktober. Tidak bisa dibayangkan kalau kondisi itu terjadi. Kemarin baru dua hari mogok kerja saja sudah membuat masalah besar, sampai banyak elemen ikut mengajar secara sukarela,” imbuh Siswanto.

Dia mengapresiasi respons pemerintah pusat atas aksi di Wonogiri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengutus petugas dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen), Ditjen Guru dan Tenaga Kependudukan (GTK), dan Inspektorat Jenderal (Itjen) menemui perwakilan GTT/PTT untuk beraudiensi di Kantor Disdikbud Wonogiri, Rabu.

Pada kesempatan itu GTT/PTT menyerahkan berkas tuntutan kepada para delegasi. Pada pokoknya para delegasi berkomitmen menyampaikan tuntutan GTT/PTT kepada pemerintah pusat.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Wonogiri, Mahmud Yunus, bersyukur akhirnya para GTT/PTT mengakhiri aksi mogok kerja. Dia memastikan KBM dan aktivitas di SD negeri se-kabupaten sudah normal lagi.

Dia meyakini sebenarnya GTT/PTT tak sampai hati meninggalkan para siswa. Mereka sudah memiliki hubungan emosional yang kuat dengan siswa.

“Semoga tidak ada mogok-mogokan lagi. Kalau GTT/PTT mogok dampaknya sangat besar,” ulas Mahmud.

Sebagai informasi, GTT yang mendapat SK Bupati Wonogiri ada 2.755 orang, meliputi 16 GTT TK, 2.296 GTT SD, dan 443 GTT SMP. Sementara PTT sebanyak 1.179 orang, yakni 7 PTT TK, 857 PTT SD, dan 315 PTT SMP orang.

Total GTT/PTT ber-SK Bupati yakni 3.934 orang. Banyak GTT/PTT yang belum masuk data induk karena faktor tertentu.

Total GTT/PTT di Kota Sukses diklaim mencapai lebih dari 6.000 orang. Mereka bertugas di seluruh TK, SD, dan SMP negeri. Jumlah TK negeri tercatat 19 lembaga, SD negeri 748 lembaga, dan SMP negeri 78 lembaga.