Jalur Maut Simpang Patung Macan Wonogiri Butuh Traffic Light

Pertigaan patung macan, Nambangan, Selogiri, ke jalan raya Solo-Wonogiri, Rabu (10/10 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
11 Oktober 2018 14:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pertigaan patung macan, Nambangan, Selogiri, Wonogiri, dinilai warga sebagai persimpangan maut.

Kecelakaan lalu lintas (lakalantas) kerap terjadi dengan angka rata-rata tiga hingga lima kali dalam setahun di lokasi tersebut. Warga meminta pihak terkait segera memasang traffic light atau lampu rambu lalu lintas di area itu untuk menekan angka kecelakaan.

Pantauan Solopos.com, Rabu (10/10/2018), persimpangan jalan raya Solo-Wonogiri itu memiliki karakteristik berbeda dibanding persimpangan pada umumnya.

Persimpangan itu merupakan kombinasi menikung dari timur (Sukoharjo) ke selatan (Wonogiri) dengan jalan alternatif Selogiri-Nguter, Sukoharjo arah utara (Nguter) ke selatan (Selogiri).

Posisi sambungan jalan alternatif tepat di tikungan jalan provinsi itu. Lebar jalur utama Solo-Wonogiri itu lebih kurang 11 meter. Sementara lebar jalan alternatif atau warga menyebutnya jalan lama lebih kurang 5 meter-7 meter.

Di dekat persimpangan terdapat patung harimau atau macan sehingga warga menyebutkan pertigaan patung macan.

Kendaraan di jalan utama baik dari timur maupun selatan rata-rata melaju kencang saat melintasi persimpangan. Di dekat patung terdapat warning lamp atau lampu rambu berwarna kuning yang menyala kedip-kedip.

Rambut itu mengisyaratkan pengguna jalan harus hati-hati. Kendaraan dari arah utara (jalan alternatif) yang akan masuk ke jalan utama arah selatan harus berhenti sejenak menunggu celah agar bisa menyeberang.

Dekat sambungan jalan utama dan jalan alternatif terdapat rambu setop. Namun, tak sedikit kendaraan yang terus melaju tanpa berhenti saat jalan utama terlihat sepi.

Warga sekitar menginformasikan kecelakaan yang terjadi di lokasi itu mayoritas kendaraan yang melaju di jalan alternatif dari utara hendak menyeberang di jalan utama menuju selatan dengan kendaraan di jalan utama dari selatan menikung ke timur.

Mereka menduga kecelakaan terjadi karena pengendara atau pengemudi dari jalan alternatif langsung menuju jalan utama. Padahal, kendaraan di jalan utama melaju kencang semua.

Warga sekitar, Yuda, 25, menginformasikan kecelakaan teranyar di Pertigaan Patung Macan terjadi Selasa (9/10/2018) sore, yakni antara sepeda motor dengan mobil.

Korban Meninggal Dunia

Lakalantas itu mengakibatkan seorang perempuan muda pengendara motor meninggal dunia. Informasi yang dihimpun Solopos.com, perempuan muda itu bernama Ma’rifah Nurul Fatimah, 18, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Solo asal Karang Kulon, Gebangharjo, Pracimantoro, Wonogiri.

Saat itu dia mengendarai Honda Beat berpelat nomor AD 4248 I. Awalnya, dia melaju di jalan lama dari utara hendak masuk ke jalan utama ke selatan. Pada saat bersamaan dari selatan melaju Mitsubishi Pajero berpelat nomor AB 53 LO yang dikemudikan Jatmiko Wahyu Nugroho, 24, warga Baturetno.

Karena jarak sudah terlampau dekat, kecelakaan pun tak terhindarkan. Menurut Yuda, di persimpangan tersebut perlu dipasang traffic light untuk mengatur kendaraan dari semua arah.

Pemuda itu menilai rambu itu akan mempermudah pengguna jalan dari jalan alternatif yang ingin melaju di jalan utama.

“Setahun bisa terjadi hingga tiga kali kecelakaan di pertigaan itu. Paling parah kejadian kemarin [Selasa]. Kendaraan yang terlibat kecelakaan mayoritas antara kendaraan dari jalan lama dengan kendaraan dari jalan utama,” kata Yuda.

Warga lainnya, Tari, 33, menyampaikan hal senada. Beberapa kali dia turut menolong korban kecelakaan di persimpangan itu. Dia berharap pihak terkait segera memberi traffic light di pertigaan patung macan.