7 Daerah Ini Alami Krisis Air Terparah di Sragen

Penyerahan 12 tandon air untuk tujuh desa terparah terkena dampak kekeringan di Sragen, Rabu (10/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
13 Oktober 2018 06:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen memetakan ada 35 desa di tujuh kecamatan yang terdampak kekeringan dan mengalami krisis air pada musik kemarau ini.

Dari jumlah tersebut, BPBD Sragen mencatat tujuh daerah yang mengalami krisis air terparah pada 2018 ini.

Tujuh daerah itu segera mendapat penanganan serius meliputi Desa Gilirejo Baru di Kecamatan Miri, Desa Gemantar di Kecamatan Mondokan, Desa Katelan di Kecamatan Tangen, Desa Karanganom di Kecamatan Sukodono, Desa Tlogotirto di Kecamatan Sumberlawang, Desa Kandangsapi di Kecamatan Jenar, dan Desa Poleng di Kecamatan Gesi.

Pada Rabu (10/10/2018), PLN Area Surakarta menyerahkan bantuan 12 unit tandon air untuk membantu warga yang mengalami krisis air bersih di tujuh daerah tersebut.

Pengadaan tandon air berkapasitas 2.000 liter/unit tersebut berasal dari dana zakat yang dikelola Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN dengan total bantuan senilai Rp37,2 juta.

Selain bantuan tandon air, PLN juga menyerahkan bantuan stimulan Rp6 juta untuk pembuatan dudukan tandon. Bantuan dari YBM PLN tersebut diserahkan Manager Area PT PLN Surakarta, Mundhakir, kepada Kepala Pelaksana BPBD Sragen Sugeng Priyono di Kantor BPBD Sragen, Rabu siang.

“Kami sudah laporan ke Bupati Sragen. Sebanyak 12 tandon air bantuan PLN itu akan ditempatkan di Gilirejo Baru enam unit dan enam unit lainnya ditempatkan di enam desa lainnya masing-masing satu unit,” ujar Sugeng Priyono.

Sugeng menjelaskan berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) puncak kemarau ekstrem terjadi pada 20 November mendatang. Dia mengatakan dampak musim kemarau panjang memang sangat terasa dan membuat daerah terdampak krisis air meluas.

“Pemetaan awal hanya 28 desa di tujuh kecamatan, sekarang meluas menjadi 35 desa di tujuh kecamatan. Sementara armada tangki yang dimiliki BPBD, Palang Merah Indonesia [PMI], dan Perusahaan Daerah Air Minum [PDAM] Sragen terbatas. Kami berharap peran swasta untuk bisa mengentaskan salah satu dari tujuh daerah yang terdampak paling berat, yakni Gilirejo Baru,” harap Sugeng.

Dia menyampaikan jarak Desa Gilirejo Baru sampai ke Kota Sragen mencapai 46 km dan truk tangki butuh tiga jam untuk sampai ke sana karena aksesnya harus melewati Kacangan, Boyolali.

Sumber air di Gilirejo Baru, sebut dia, hanya dari Waduk Kedung Ombo (WKO). “Yang penting bagi warga air dari WKO itu bisa dimanfaatkan dan naik ke perkampungan. Persoalan penjernihan air nanti diserahkan kepada kearifan lokal daerah setempat,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Area PT PLN Surakarta Mundhakir menyampaikan bantuan tandon air ini bersumber dari dana umat, yakni dana zakat para karyawan muslim PT PLN yang dipotong zakat sebesar 2,5%.

Dengan bantuan tandon air, dia berharap memunculkan semangat warga untuk mencari potensi air di daerah setempat.

“Ke depannya mungkin sumber air itu bisa dipompa naik ke tandon air itu sehingga bisa dimanfaatkan warga. Kemudian sumber air itu bisa pula dijadikan objek wisata. Jadi zakat itu lebih baik untuk pemberdayaan masyarakat. Bila memungkinkan perlu ada kegiatan penghijauan di daerah sasaran, seperti di perbatasan Ngawi, Purwodadi, dan Boyolali,” tambahnya.