Dibangun Januari 2019, Flyover Purwosari Solo Tak Gusur Lahan Warga

Kendaraan melintas di perlintasan sebidang Purwosari, Laweyan, Solo, Rabu (4/7 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
17 Oktober 2018 13:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Proyek pembangunan jalan layang (flyover) Purwosari Solo dipastikan zero atau tidak membutuhkan lahan privat milik warga. Seluruh badan jalan di lokasi tersebut akan dimaksimalkan dalam pembangunan flyover Purwosari.

Kepala Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Jawa Tengah, Aris Rudianto, mengatakan akan mengoptimalkan lahan-lahan yang masuk ke dalam ruang milik jalan (rumija). Hal ini untuk menekan pembebasan lahan privat terdampak proyek tersebut.

“Sesuai request Pemkot, pembangunan flyover Purwosari ini zero pembebasan lahan privat,” katanya kepada Solopos.com, Selasa (16/10/2018).

Desain pembangunan jalan layang Purwosari berbentuk I sangat mengurangi dampak terhadap lahan privat. Merujuk desain awal yang telah disusun Satker P2JN, konstruksi utama jalan layang Purwosari sepanjang 460,68 meter.

Sedangkan panjang keseluruhan jalan layang tersebut adalah 2,375 km yang membentang dari sekitar Kleco hingga sisi barat persimpangan Purwosari. Berbeda jika proyek jalan layang dikonsep berbentuk Y, akan banyak lahan privat yang terdampak.

Lahan privat yang diperkirakan terdampak jika menggunakan model Y terutama di kawasan Jl. Agus Salim.

“Sekarang kami masih persiapan lelang. Kami targetkan jalan layang dikerjakan Januari 2019 hingga 12 bulan sesudahnya,” katanya.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo, Arif Nurhadi, mengatakan idealnya flyover Purwosari didesain berbentuk ‘Y’. Namun lantaran berbagai pertimbangan, Pemkot akhirnya menyepakati desain flyover berbentuk ‘I’.

Selain ketersediaan anggaran, pertimbangan lain adalah persoalan nonteknis lain. Beberapa aspek nonteknis apabila berbentuk ‘Y’ itu adalah banyaknya lahan di Jl. Agus Salim yang bakal terdampak pembangunan flyover. Dengan demikian perlu adanya pembebasan lahan di sepanjang Jl. Agus Salim. Pembebasan lahan diperlukan untuk pelebaran jalan menyesuaikan kondisi flyover.

“Kanan kiri Jl. Agus Salim harus dilebarkan, jadi butuh biaya besar. Jika tetap bangun ‘Y’, costnya terlalu tinggi dan khawatirnya malah tidak ada anggaran dan tidak terbangun sehingga kemacetan semakin parah,” katanya.

Pembangunan flyover Purwosari mendesak segera direalisasikan guna mengatasi persoalan kemacetan di perlintasan sebidang saat kereta api melintas. Manajemen rekayasa lalu lintas akan disiapkan Dishub Solo selama proyek pembangunan flyover Purwosari dikerjakan.

Pengerjaan proyek tersebut diprediksikan juga bakal berdampak pada kepadatan arus lalu lintas di Kota Bengawan. Kajian rekayasa lalu lintas ditargetkan rampung dalam waktu dekat.