ABG Korban Pembunuhan di Sukoharjo Dikenal Pendiam di Rusunawa Begalon

Ilustrasi garis polisi. (polri.go.id)
20 Oktober 2018 09:30 WIB Ratih Arfy Sukoharjo Share :

Solopos.com, SOLO -- Jenazah Retno Ayu Wulandari, 14, remaja atau anak baru gede (ABG) warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Begalon, Panularan, Laweyan, Solo, akan dimakamkan pada Sabtu (20/10/2018) pagi ini. Korban penganiayaan oleh sejumlah pemuda di Gatak Sukoharjo tersebut akan dikebumikan di Tempat Permakaman Umum (TPU) Daksinoloyo, Dayung, Kwarasan, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu pagi pukul 10.00 WIB.

Sebelumnya, jenazah Retno tiba di rumah duka pada Jumat (19/10/2018) malam tepat pukul 19.35 WIB. Jenazah sempat menjalani autopsi di Rumah Sakit (RS) Dr Moewardi setelah meninggal dunia dengan penuh luka di bagian kepala.

Ketua RT 002/RW 008, Ariyanto, menjelaskan korban dikenal pendiam dalam kesehariannya di rusunawa itu. Dia mengaku kaget saat mendengar kabar korban telah meninggal dunia karena dugaan penganiayaan. “Kaget lah mbak, kan biasanya jrundal-jrundul,” jelasnya, Jumat malam.

Ariyanto berharap agar orang tua yang memiliki anak, agar hati-hati dan tetap memantau kondisi anak. Kejadian tersebut menjadi sebuah pembelajaran agar anak lebih diperhatikan lagi.

Retno ditemukan meninggal dunia di sekitar rumah penggilingan padi di Desa Trosemi, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, Jumat (19/10/2018) sekitar pukul 00.15 WIB. Kondisi Retno saat ditemukan sangat mengenaskan bagian kulit kepala sebelah kanan hingga telinga terkelupas. Badannya juga penuh dengan lumpur.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat, menyebutkan korban berpamitan dengan kakak kandungnya, Arved Crystian, pada Kamis (18/10/2018) sekitar pukul 20.00 WIB. Retno pergi bersama temannya yang telah menjemput di sekitar rusunawa.

Setelah kejadian itu, ayah korban, Edi Santoso, semula mendapat kabar anaknya meninggal karena kecelakaan tunggal. Saat mendapatkan kabar itu, jenazah anaknya telah berada di Rumah Sakit Dr. Oen.

Akan tetapi, Edi tak percaya ucapan dari tersangka yang telah membawa korban ke rumah sakit tersebut. Akhirnya Edi membawa jenazah anaknya untuk diautopsi di rumah sakit Dr. Moewardi. “Hasilnya ada beberapa luka bekas pukulan. Bagian belakang kepala terdapat luka sepanjang 10 cm, kemudian kedalaman luka 10 mm. Bagian atas ubun-ubun terdapat luka sepanjang 150 mm,” kata dia.

Menurut penjelasan sang ayah, anaknya memang sering main. Tapi dia tak mengetahui secara pasti ke mana anaknya bermain bersama teman-temannya. Hal itu karena dia sibuk bekerja saat malam hari dan tidur ketika pagi hari. Dia juga tak sempat untuk berbicara dengan anaknya sebelum kejadian tersebut.