Pengolahan Air WKO Jadi Air Minum untuk Warga Sragen Butuh Rp46 Miliar

Keindahan perairan WKO di lokasi swafoto perahu di Wisata Alam dan Bumi Perkemahan Boyolayar, Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (30/6 - 2018). (Istimewa/Sajimin)
27 Oktober 2018 16:00 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Keinginan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirto Negara Sragen untuk memanfaatkan air Waduk Kedung Ombo (WKO) sebagai air bersih harus melalui jalan panjang.

Kendati sudah mendapatkan Surat Izin Pengambilan Air (SIPA) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat masih ada sejumlah tahapan yang harus diperjuangkan PDAM Sragen.

“[Air WKO dapat diminum warga] Kemungkinan tahun 2021 atau 2022,” ujar Dirut PDAM Sragen, Supardi, saat diwawancarai wartawan belum lama ini di kantornya. Supardi mengakui Kementerian PUPR memang sudah memberikan SIPA kepada PDAM Sragen. Tapi pihaknya masih harus membuat detail enginnering design (DED) kegiatan.

Pemenuhan kebutuhan anggaran kegiatan menurut Supardi juga bukan urusan sepele. Sebab kebutuhan anggaran untuk mengolah air WKO menjadi bersih mencapai Rp46 miliar.

Ihwal anggaran Supardi memastikan tak akan bisa dipenuhi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sragen saja. “Anggaran tentu harus dari APBN. Kalau APBD tidak mungkin,” kata dia.

Supardi menerangkan pengolahan air WKO agar bisa dinikmati masyarakat sudah saatnya dimulai. Sebab Sragen tidak bisa terus menerus mengandalkan air dari sumur-sumur dalam yang debitnya pasti akan berkurang.

Langkah yang sama telah lebih dilakukan Pemkab Boyolali dan Pemkab Grobogan. “Kalau di Boyolali, yang sudah memanfaatkan air ini di Kemusu. Sudah agak lama itu. Selain Boyolali, Grobogan sudah pakai air WKO,” imbuh dia.

Ihwal pemanfaatan air WKO di Sragen, menurut Supardi meliputi Kecamatan Sumberlawang, Gemolong dan Miri. “Yang Sumberlawang dan Gemolong sifatnya substitusi saja dari air sumur kami. Kalau Miri baru,” tutur dia.

Terpisah, tokoh pemuda daerah utara Sungai Bengawan Solo, Endro Supriyadi, menilai langkah PDAM Tirto Negara Sragen memulai tahapan izin pemanfaatan air WKO agar bisa dikonsumsi masyarakat sudah tepat.

Sebab debit air sumur dalam PDAM tentu suatu waktu akan berkurang dan tak mampu memenuhi kebutuhan air warga. Sebelum kondisi itu terjadi, menurut Endro PDAM harus punya strategi untuk memenuhi air bersih warga.

“Proses izin pemanfaatan air WKO sudah tepat. Tinggal terus dikawal agar syarat-syarat lain terpenuhi, dan kebutuhan anggaran tersedia. Saya berharap persoalan air bersih di Sragen utara benar-benar tuntas,” seru dia.

Endro menilai pentingnya langkah-langkah strategis jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air bersih di Sragen. Salah satunya dengan gerakan penghijauan di setiap jengkal Bumi Sukowati. Pemkab Sragen menurutnya harus jadi inisiator.

Pemkab Sragen bisa menggandeng institusi samping termasuk pemberdayaan masyarakat. “Selama ini pemerintah menyediakan anggaran pengadaan tanaman. Tapi kami tidak merasakan sejauh mana dampaknya,” tegas Endro.