Kampung Babe Desa Beku Klaten Punya Wisata Susur Sungai dan Outbound

Rumah panggung di Kampung Banyu Beku (Babe) di Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (25/10 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
27 Oktober 2018 15:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sejak November 2017, warga dan pemerintah Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, meluncurkan objek wisata Kampung Banyu Beku (Babe) Klaten.

Objek wisata yang berada di perbatasan Dukuh Jaten dan Sidorejo itu menjadi harapan baru meningkatkan kesejahteraan warga desa setempat. Objek wisata yang dikembangkan berupa arena mancakrida atau outbond dilengkapi fasilitas halang rintang serta flying fox.

Berdampingan dengan sungai dan saluran irigasi peninggalan kolonial, objek wisata tersebut juga dilengkapi wahana susur sungai serta river tubing. Rumah panggung berbahan kayu berdiri di kawasan yang teduh lantaran rindangnya pepohonan.

Kepala Desa Beku, M. Mudrik, mengatakan pendirian Kampung Babe bermula ketika ada kekhawatiran bertambahnya jumlah penduduk menggeser fungsi lahan pertanian menjadi perumahan. Apalagi, Beku berada di pusat ibu kota Kecamatan Karanganom.

“Berada di ibu kota kecamatan otomatis banyak warga yang berdatangan hingga wilayah persawahan menjadi kering semua karena menjadi perumahan. Dari kekhawatiran itu kami menggali apa yang bisa digarap untuk menyejahterakan warga kami,” kata Mudrik saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (26/10/2018).

Ide mengembangkan Kampung Babe muncul sekitar 2015 saat digelar musyawarah rencana pembangunan desa (Musrenbangdes). Mendapat dukungan dari warga desa setempat, pemerintah desa mulai melakukan survei pada 2016.

Lahan di perbatasan Dukuh Jaten dan Sidorejo dipilih lantaran tak produktif. Selain tak produktif, di kawasan tersebut ada sungai serta aliran irigasi peninggalan kolonial yang berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata.

Penataan kawasan dan pembangunan pun dimulai pada awal 2017 menggunakan dana desa senilai Rp200 juta hingga Kampung Babe resmi diluncurkan sebagai objek wisata baru pada 9 November 2017.

Mudrik menuturkan dari pengembangan objek wisata itu bisa memberdayakan warga setempat. Selain ikut mengelola objek wisata, geliat ekonomi warga tumbuh dengan munculnya warung-warung di sekitar kawasan Kampung Babe.

“Pada November hingga akhir Desember 2017 pengelolaan Kampung Babe bisa menyumbang pendapatan asli desa sekitar Rp8 juta. Untuk 2018 belum dihitung secara keseluruhan. Kalau tingkat kunjungannya setiap bulan rata-rata lebih dari 500 orang,” jelas Mudrik.

Ia menuturkan kawasan Kampung Babe terus dikembangkan. Tak hanya untuk arena mancakrida, kawasan tersebut ditargetkan bisa menjadi wisata keluarga. “Kami terus kembangkan dengan menambah fasilitas wisata seperti tempat swafoto,” urai dia.

Ketua RW 005, Desa Beku, Purwito, 64, mengatakan ada dampak dengan munculnya objek wisata Kampung Babe di wilayahnya. Selain menggeliatkan ekonomi warga, keberadaan objek wisata tersebut juga membuat kawasan kian bersih.

“Kalau bisa saya gambarkan dulunya kawasan Kampung Babe itu kumuh dipenuhi rerumputan. Akhirnya ada kesepakatan bersama untuk membersihkan menjadi tempat wisata. Sedikit demi sedikit setelah menjadi objek wisata warga mulai berkembang,” katanya.