15 Kades Malaysia Belajar di Ponggok Klaten

Menteri Pembangunan Luar Bandar Malaysia, YB Datuk Seri Rina Mohd Harun (kedua dari kiri), mengunjungi Umbul Ponggok, Klaten, Sabtu (27/10 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
28 Oktober 2018 11:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sebanyak 15 kepala desa (kades) dari Malaysia bakal belajar ke Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Para kades asal Negeri Jiran itu bakal belajar tentang manajemen pemerintahan desa.

Hal itu disampaikan Menteri Pembangunan Luar Bandar Malaysia, Y.B. Datuk Seri Rina Mohd Harun, mengatakan Malaysia dan Indonesia sama-sama ingin belajar terkait pembangunan desa. Ia menjelaskan pembangunan desa tak sekadar dari sisi infrastruktur.

"Tetapi juga ada pemberdayaan manusia. Dana boleh disediakan tetapi kalau tidak ada pemberdayaan tidak bisa menopang," kata Datuk Seri Rina saat ditemui wartawan seusai kunjungan ke Umbul Ponggok, Sabtu (27/10/2018).

Rina Harun menjelaskan dengan sistem pengelolaan dana yang baik desa bisa melakukan pemberdayaan ekonomi bagi warganya dengan memanfaatkan potensi yang ada. Dampaknya, warga desa tak perlu lagi mencari pekerjaan ke kota lantaran lapangan pekerjaan di desa sudah tersedia. 

Di Malaysia ada 17.000 desa. Rencananya, 25 kades akan belajar di Indonesia yakni ke Ponggok pada dua pekan mendatang. Rina Harun mengatakan di Malaysia juga bergulir dana dari pemerintah seperti konsep dana desa.

"Malaysia ada dana desa bertujuan membantu ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa," jelas dia.

Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT, Taufik Madjid, mengatakan kedatangan Menteri Pembangunan Luar Bandar sebagai kunjungan balasan. Kedatangan tersebut juga menandai kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia terutama tentang pembangunan desa.

"Dari pemerintahan Malaysia mengirimkan 15 kepala desa untuk belajar metode kerja dan sistem pembangunan terutama dari dana desa. Karena konsep dana desa ini dianggap paling baik dan sudah diakui dunia internasional untuk mendorong percepatan perkembangan desa-desa di Indonesia," jelas dia.

Taufik menjelaskan Ponggok dipilih sebagai salah satu tempat belajar belasan kades asal Malaysia tersebut lantaran memiliki sejumlah keunggulan seperti pengelolaan wisata air serta berbagai unit usaha yang dikelola Badan Usaha Milik (BUM) desa.

Ponggok kini sudah masuk kategori desa mandiri. "Sekarang sudah ada lebih dari 5.000 desa masuk kategori desa mandiri. Ini dampak dari berbagai pembangunan di desa termasuk sumbangan dari dana desa," kata dia.

Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono, mengatakan sebelumnya ada perwakilan 24 negara Asia-Pasifik yang mendatangi Ponggok guna mengetahui pengelolaan pemerintahan desa salah satunya kemanfaatan dana desa.

"Dana desa disorot dari banyak pihak karena dinilai mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Dulu membangun susah karena keterbatasan dana, kini setelah ada dana desa hampir seluruh desa di Indonesia membangun," jelas dia.