Kunjungi Klaten, SBY Minta Caleg Demokrat Tak Banyak Obral Janji

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, menyalami simpatisan di Klaten, Sabtu (27/10 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
28 Oktober 2018 15:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), meminta para calon anggota legislatif (caleg) peserta Pemilu 2019 dari partai tersebut tak banyak mengumbar janji. 

Ia meminta para caleg lebih banyak mendengarkan permasalahan di masyarakat. Hal itu disampaikan SBY di Rumah Makan Omah Eyang Prambanan, Klaten, Sabtu (27/10/2018) siang. 

Kedatangan SBY ke rumah makan tersebut untuk berdialog dengan kelompok masyarakat di Kabupaten Bersinar. Dalam dialog itu, SBY didampingi istrinya, Ani Yudhoyono. 

Kegiatan itu dihadiri para caleg Partai Demokrat. Presiden keenam Republik Indonesia itu menjelaskan Indonesia sedang mempersiapkan diri menggelar Pemilu 17 April 2019. Menjelang pemilu, parpol, capres, cawapres, serta caleg dari tingkat kabupaten/kota hingga pusat menggelar kampanye.

“Biasanya beliau-beliau menyampaikan janji-janji. Untuk Partai Demokrat saya instruksikan daripada terlalu banyak berjanji, lebih baik banyak mendengar. Tolong dengarkan dan catat nanti saya juga mendengarkan dan menyimak karena apa pun yang diinginkan masyarakat nanti menjadi tugas, kewajiban, dan amanah Partai Demokrat untuk diperjuangkan dan dilaksanakan,” jelas SBY saat mengawali dialog.

Sementara itu, dalam dialog tersebut SBY mendapat pertanyaan serta keluhan dari berbagai paguyuban yang datang ke acara tersebut. Seperti disampaikan perwakilan kelompok UMKM, petani, tenaga honorer, disabilitas, serta kalangan milenial.

Salah satu petani asal Desa Glagahwangi, Kecamatan Polanharjo, Marjono, mengeluhkan birokrasi pembelian pupuk bersubsidi yang dinilai ruwet. Ia menjelaskan usia petani saat ini lebih dari 50 tahun serta tak menguasai teknologi. 

Sementara pembelian pupuk bersubsidi mulai diterapkan menggunakan kartu tani. “Kami berharap petani beli pupuk itu mudah,” kata Marjono.

Ia juga mempertanyakan soal struktur organisasi tata kerja pemerintah desa saat ini tidak ada perangkat desa yang mengatur air irigasi serta pola tanam. 

“Sangat penting bagi kami namanya pamong desa dulu ada ulu-ulu yang mengatur air dan pola tanam. Saya berharap untuk difasilitasi hal tersebut apakah nanti bisa ditambah atau bagaimana agar di pemerintahan desa itu ada ulu-ulu,” katanya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, SBY mengatakan pertanian menjadi prioritas di Indonesia. Tak sekadar pertanian yang maju, kesejahteraan petani menjadi faktor penting. 

Soal keluhan petani yang masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, SBY meminta anggota DPR dari Partai Demokrat menyampaikan keluhan-keluhan petani saat menggelar rapat kerja dengan Kementerian Pertanian. 

Sementara itu, salah satu pegawai honorer, Sriyono, mempertanyakan proses pengangkatan honorer K2 yang hingga kini belum semuanya diangkat menjadi PNS. Ia juga mempertanyakan aturan pengangkatan CPNS yang dibatasi usia maksimal 35 tahun. 

“Bagaimana kebijakan Bapak tentang tenaga honorer yang umurnya 35 tahun ke atas mau diangkat P3K [pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja]? Kami semua tidak setuju, inginnya diangkat PNS harga mati,” kata pegawai honorer asal Kecamatan Cawas tersebut.

SBY mengatakan ia kerap mendapat keluhan yang sama ketika menyambangi daerah lainnya di Indonesia. Terkait pertanyaan yang disampaikan pegawai honorer tersebut, SBY menjelaskan lebih tepat disampaikan ke pemerintah saat ini. 

Namun, ia meminta anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat mencatat persoalan tersebut dan segera menyampaikan ke pemerintah melalui menteri terkait agar ada kebijakan yang pasti untuk menyelesaikan masalah honorer K2.

Ketua DPC Partai Demokrat Klaten, One Krisnata, menjelaskan kegiatan tersebut bukan sebagai ajang kampanye. Kegiatan lebih pada penyerapan aspirasi yang dilakukan SBY beserta jajaran pimpinan Partai Demokrat dari tingkat pusat hingga daerah. 

Ia menjelaskan ada 14 paguyuban dengan beragam latar belakang yang mengikuti dialog tersebut.