5.070 Pemuda di Solo Menganggur, Ini Penyebabnya

Pelamar kerja antre untuk mendaftarkan pekerjaan di salah satu stan dalam Politeknik ATMI Job Fair 2018 di Mikael Sport Center, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (28/3/2018). - M. Ferri Setiawan
29 Oktober 2018 07:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos, SOLO-Kepala Disnakerperin Solo, Agus Sutrisno, meyakini hanya 1.000-an jiwa dari 5.070-an anak muda itu yang kini menganggur karena un-skill atau tidak punya kemampuan yang dibutuhkan penyedia lapangan pekerjaan maupun menciptakan pekerjaan. Sementara 4.000-an anak muda lainnya sekarang menganggur karena pilihan, yakni mencari pekerjaan yang paling cocok.

"Kami melihat kebanyakan anak muda di Solo kini masih jadi pengangguran itu karena mereka pilih-pilih, bukan karena tidak mampu atau tidak tersedia lowongan pekerjaan. Artinya, mereka itu masih memilih pekerjaan yang paling cocok, mana yang paling enak, gajinya lumayan, dan lain sebagainya," kata Agus saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (28/10/2018). 

Agus berharap anak muda yang masih menganggur agar segera memutuskan untuk bekerja guna mempersiapkan masa depan. Dia mengatakan para anak muda tersebut tidak diharuskan bekerja sebagai karyawan atau tenaga kerja di sebuah perusahan. Disnakerperin juga mendukung langkah para generasi muda yang ingin berjuang membikin usaha secara mandiri. Jika berkaitan dengan rintisan usaha mikro kecil menengah (UMKM), Agus mengarahkan mereka untuk berkonsultasi dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Solo.

"Sekarang ini zamannya sudah serba Internet. Para generasi muda khususnya, mesti adaptif dan kreatif. Pintar-pintarlah melihat peluang agar tidak ketinggalan dengan yang lain," ujar Agus dalam pesannya terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda ini.

Disnakerperin rutin menggelar bursa kerja  guna menekan angka pengangguran terbuka di Solo. Disnakerperin ingin warga mendapatkan akses informasi lowongan pekerjaan kepada masyarakat. Selain job fair, Disnakerperin juga beberapa kali menggelar pelatihan wirausaha baru dengan sasaran masyarakat umum. Dia mengatakan organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemkot Solo selama ini bekerja dengan maksimal untuk menekan angka pengangguran.

"Beberapa program dan kebijakan sudah dikeluarkan Pemkot untuk menekan angka pengangguran terbuka. Salah satunya, kami mewajibkan pemilik mal dan hotel di Solo memprioritaskan orang Solo untuk bekerja di sana. Kami sudah buat zonasi. Mal dan hotel pokoknya mesti memprioritaskan orang sekitar," jelas Agus.

Agus mengatakan pesaing warga Solo saat mencari pekerjaan di Solo bukan hanya datang dari warga Solo lainnya, tapi dari daerah lain. "Orang yang datang ke Solo sekarang kan banyak. Tiap hari mungkin bertambah. Jadi muncullah persaingan yang luar biasa. Bagi yang tidak punya kompetensi jelas dirinya akan ketinggalan," terang Agus.