Pasar Legi Solo: Asal-Usul Nama hingga Sejarah Pendirian

Pasar Legi di Jalan Letjend S Parman Solo. (Solopos/Dok)
29 Oktober 2018 20:53 WIB Jafar Sodiq Assegaf Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Pasar Legi menjadi salah satu dari sekian banyak arsiterkur kuno paling bersejarah di Solo. Pasar induk hasil bumi terbesar di Solo ini sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Mengutip laman pwk.ft.uns.ac.id yang dirilis 6 Oktober 2015, Secara administratif Pasar Legi berlokasi di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Pasar ini berdiri diatas Hak Pakai dengan luas tanah 16.640 m² dan konstruksi bangunan pasar bertingkat seluas kurang lebih 1.750 m².

Keberadaan Pasar Legi tidak dapat dipisahkan dengan Pura Mangkunegaran. Pasar ini merupakan bagian dari tata ruang pemerintahan Mangkunegaran yang didirikan pada masa Pemerintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said).

Berdasarkan Perjanjian Salatiga 1757, wilayah Kraton Solo dibagi menjadi dua yakni sebagian milik Pangeran Sambernyawa dan sebagian tetap milik Kasunanan Surakarta yang kala itu dipegang oleh Paku Buwana III.

Sebagai penerus dinasti Mataram, Pangeran Sambernyawa tetap mempertahankan konsep kosmopologi Jawa saat membangun Pura Mangkunegaran. Pangeran Sambernyawa mengadopsi Catur Gatra Tunggal sebagaimana ketika Danang Sutawijaya untuk pertama kalinya membangun Keraton Mataram dan juga saat Paku Buwana II memindahkan keratonnya dari Kartasura ke Surakarta. Pasar Legi merupakan representasi ruang ekonomi yang wajib diadakan sebagaimana dibangunnya masjid, alun-alun dan pura sebagai representasi kekuasaan.

Secara fisik, bangunan Pasar Legi yang terlacak adalah bangunan dalam bentuk los sederhana yang dipertahankan hingga pada tahun 1930-an. Baru pada era Mangkunegara VII, sekitar 1935, Pasar Legi dibangun secara permanen.

Nama Pasar Legi sendiri diambil dari salah satu nama hari pasaran yaitu “Legi”, karena pada hari tersebut pada jaman dulu merupakan hari yang paling ramai dikunjungi pembeli.

Pada masa lalu, pasar ini memang hanya ramai pada hari pasaran Legi. Hasil bumi sejak awal mendominasi karena wilayah Mangkunegaran memang dikenal sebagai penghasil komoditas perkebunan dan pertanian. Pada perkembangannya, Pasar Legi buka setiap hari bahkan berlangsung selama 24 jam, namun hasil bumi tetap menjadi dagangan utamanya.

Sebagai pasar utama hasil bumi, tidak jarang harga-harga sembako di pasar yang lain di kota Solo dan sekitarnya merujuk pada harga yang berlaku di Pasar Legi. Tidak hanya itu, Pasar Legi juga menjadi tujuan pedagang besar dari berbagai daerah di Jawa Tengah untuk memasarkan atau mendapatkan barang dagangan yang kemudian akan dijual lagi di daerah lainnya.

Akses menuju Pasar Legi juga sangat mudah, karena tidak jauh dari terminal bus Tirtonadi maupun stasiun Balapan. Pasar Legi juga berhimpitan dengan Taman Banjarsari atau Vila Park, sebuah pemukiman elit torwan koelit poetih pada saat kompeni masih menjadikan Kota Solo sebagai vorstenlanden.

Dinas Pengelolaan Pasar Pemerintah Kota Solo yang mengelola pasar ini menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang aktivitas ekonomi. Selain pos keamanan, termasuk pos polisi yang berada di bangunan pasar, Pasar legi juga memiliki tempat parkit yang luas di samping tempat angkut bongkar. Bagi pengunjung pasar juga tidak perlu khawatir dengan keperluan MCK atau beribadah karena fasilitas tersebut juga disediakan di pasar ini.

Pemugaran Pasar Legi pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 1992, dari yang semula satu lantai menjadi dua lantai. Pada tahun 2008 Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana untuk merenovasi beberapa bagian pasar yaitu blok ikan asin dan kelapa yang kemudian akan dilanjutkan ketahap berikutnya untuk bangunan dibagian depan/barat.

Pasar Legi bisa dikatakan salah satu pasar yang tidak pernah tidur, kegiatan pasar tradisional ini dimulai dari dini hari sampai dini hari lagi. Suasana selalu ramai baik karena perdagangan dalam pasar maupun kaki limanya. Maka tak heran apabila Pasar Legi memiliki perputaran uang yang cukup besar, Pasar Legi merupakan salah satu penopang utama perekonomian Solo.

Meski dikenal sebagai Pasar Hasil Bumi, namun di pasar ini pengunjung dapat menemukan beragam barang dagangan lainnya, seperti barang-barang yang ada di toko kelontong, pakaian, perkakas rumah tangga, bumbu-bumbu dan lain sebagainya.