Dipicu Gangguan Psikologis, 2 Orang Bunuh Diri di Wonogiri 

Polisi meminta keterangan keluarga atas kematian Setu Martorejo, 69, warga Tamansari RT 002/RW 005, Tunggur, Slogohimo, Wonogiri, Senin (29/10 - 2018). (Istimewa/Humas Polres Wonogiri)
29 Oktober 2018 17:40 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Dua kasus bunuh diri terjadi di Wonogiri dalam dua hari berturut-turut, Minggu-Senin (28-29/10/2018). Kedua kasus itu diduga dipicu gangguan psikologis.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, dari Bagian Humas Polres Wonogiri, Senin, kedua orang yang bunuh diri itu yakni Kadiman, 85, warga Gondanglegi RT 003/RW 002, Tumpuk, Bandar, Pacitan, Jawa Timur, dan Setu Martorejo, 69, warga Tamansari RT 002/RW 005, Tunggur, Slogohimo, Wonogiri.

Mayat Kadiman ditemukan warga terapung di sumur untuk pengairan ladang di Cingklok RT 001/RW 005, Gesing, Kismantoro, Minggu pukul 15.30 WIB. Kadiman merupakan penjual berbagai jenis perkakas, seperti sabit, pisau, dan sejenisnya dengan cara keliling jalan kaki. 

Dia sudah sering berkeliling di Cingklok dan sekitarnya. Setiap ke dusun tersebut dia mampir ke rumah saudaranya, Miseran, 80. 

Saat itu Miseran tak di rumah sehingga Kadiman ke rumah tetangga Miseran, Jarot. Kadiman sudah mengenal Jarot dengan baik. Setelah menyuguhkan makanan dan minuman, Jarot pergi meninggalkan Kadiman. 

Saat pulang, Jarot tak mendapati Kadiman. Sementara barang-barang Kadiman masih ada. Selanjutnya Jarot mencari di sekitar pekarangannya. 

Di lokasi itu dia menemukan sandal Kadiman di dekat sumur. Saat dicek, Kadiman sudah terapung di sumur.

Kapolsek Kismantoro, Iptu Bambang Suripto, menduga Kadiman bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. Berdasar keterangan warga, Kadiman sering terlihat bersikap aneh. 

Kadang dia teriak-teriak tanpa alasan jelas. Bahkan, ada informasi yang menyebutkan belum lama ini Kadiman mengatakan dirinya akan mati.

“Pokoke aku sesok mati [pokoknya besok saya mati], begitu kata warga menirukan Kadiman. Kalau keterangan keluarga, Pak Kadiman tidak pernah mengeluhkan sesuatu atau menyampaikan hal-hal yang tak biasa. Tak ada riwayat penyakit menahun juga. Atas hal itu diduga Pak Kadiman bunuh diri, bukan jatuh ke sumur karena terpeleset,” kata Kapolsek mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede saat dihubungi Solopos.com.

Sementara itu, Setu ditemukan meninggal dunia oleh istrinya dalam kondisi lehernya tergantung tali dadung di belandar kandang sapi samping rumahnya, Senin pukul 05.00 WIB. Saat itu istri Setu, Tanem, hendak memberi makan sapi. 

Sesampainya di kandang sapi dia melihat suaminya sudah tergantung. Kapolsek Slogohimo, AKP Kasimin, mengatakan Setu diduga bunuh diri. Berdasar keterangan keluarga, Setu berperilaku tak seperti biasanya setelah pulang dari Lampung, Sumatra, dua pekan lalu. 

Setu ke Lampung untuk menemui anak tirinya. Dia menjadi pendiam seperti orang depresi. Bahkan, Setu kerap berhalusinasi dirinya akan dibunuh orang.

Kepada keluarganya dia mengaku takut. Padahal, sebelum dari Lampung Setu tak pernah bersikap seperti itu. “Dari indikasi itu diduga Pak Setu bunuh diri,” ucap Kapolsek.