3 Kepala Perpustakaan di Solo Sampaikan Cara Kerja di Era Teknologi

Pengunjung melihat koleksi arsip foto pada Gelar Pustaka dan Arsip Solo 2018 di Atrium Solo Paragon Lifestlye Mall, Solo, Rabu (12/9 - 2018). Dalam acara Gelar Pustaka dan Arsip Solo 2018 tersebut sekaligus melaunching aplikasi berbasis sistem operasi Android dan Windows bertajuk iSolo. (Solopos/Nicolous Irawan)
30 Oktober 2018 13:45 WIB Insetyonoto Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Mempertahankan bahkan mengembangkan perpustakaan di era teknologi bukanlah hal yang mudah. Tiga kepala perpustakaan di Solo menyampaikan cara kerja mereka di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UNS Solo menggelar focus group discussion (FGD) bertema Pengembangan Pengelolaan Perpustakaan Di Era 4.0. Kegiatan yang diikuti kepala atau pengelola perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, dan perpustakaan daerah se-Soloraya digelar di ruang Seminar UPT Perpustakaan UNS, Senin (29/10/2018).

Sebagai narasumber adalah Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Solo Sis Ismiyati, Kepala UPT Perpustakaan IAIN Surakarta Erland Cahyo Saputro, dan Kepala UPT Perpustakaan UNS Muhammad Rohmadi, dengan moderator Pustakawan UNS, Widodo.

“Tujuan FGD adalah berbagi ilmu dan pengalaman dari masing-masing pengelola perpustakaan agar dapat bersinergi,” kata Muhammad Rohmadi dalam rilis melalui Humas UNS, Senin.

Dia berharap dapat terwujud suatu wadah atau forum komunikasi perpustakaan se-Soloraya. Menurut Rohmadi, kunci dalam menghadapi teknologi era revolusi industri 4.0 dimulai dari pengelola atau pustakawannya yang harus terbuka terhadap kemajuan teknologi.

“Perpustakaan harus aktif menjalin kerja sama dengan perpustakaan yang lain karena perpustakaan pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dengan saling bersinergi antarperpustakaan, maka perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan, aktivitas, dan rekreasi akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.

Sementara, Sis Ismiyati mengungkapkan ada beberapa kiat-kiat yang harus dijalankan pengelola perpustakaan agar tidak semakin tergerus dahsyatnya perkembangan globalisasi saat ini. “Perpustakaan harus berani merubah mindset tidak hanya menjadi pusat informasi saja, tetapi harus sebagai pusat aktivitas,” ujar dia.

Sedangkan, Erland Cahyo Saputro, mengatakan menghadapi tantangan di era revulusi industry 4.0 perpustakaan harus berani beradaptasi terhadap perkembangan teknologi saat ini.

“Perpustakaan memiliki peran penting sebagai pusat sumber ilmu pengetahuan. Mmasyarakat saat ini menginginkan informasi yang cepat dan mudah aksesnya,” kata dia.