Era Milenial, Peminat SMK Jurusan Boga di Solo Meningkat, Ini Alasannya

Siswa SMK Jurusan Boga se/Solo berjualan bareng. (Dokumen)
30 Oktober 2018 20:12 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Meski di era milenial SMK menawarkan banyak jurusan kekinian, namun peminat jurusan boga SMK di Solo justru meningkat.

Di SMK Sahid Solo, misalnya. Walaupun siswa terbanyak di SMK Sahid ada di jurusan perhotelan, jurusan boga masih diminati anak didik baru. Hal itu terlihat pada jumlah siswa yang meningkat di SMK Sahid pada 2017 yaitu dari 79 siswa menjadi 96 siswa pada 2018.

Sama halnya dengan SMK Marsudirini Marganingsih yang pada 2017 memiliki 22 siswa jurusan boga sementara pada 2018 menjadi menjadi 44 siswa. Ada berbagai alasan siswa memilih jurusan boga di SMK, beberapa di antaranya adalah membantu orang tua, ingin meneruskan usaha orang tua, hingga bercita-cita menjadi koki.

Salah seorang siswa Jurusan Boga SMK Sahid, Bagus Setiaji, yang duduk Kelas XII, contohnya. Ia memilih jurusan boga karena ingin meneruskan usaha orang tuanya yaitu warung makan. Warung makan tersebut terkadang menerima pesanan.

“Saya ingin mengembangkan usaha orang tua saya dengan menambah item yang ditawarkan. Selama ini hanya masakan, belum ada appetizer dan desert,” kata Bagus saat ditemui reporter Solopos.com, Andri Kusuma Wardaningtyas, Selasa (30/10/2018).

Di SMK Sahid pun ada praktik memasak yang hasilnya dijual ke lingkungan intern sekolah. Praktik itu dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Biasanya menu yang ditawarkan adalah snack box seperti puding. Waka Kesiswaan SMK Sahid, Agus Setiyoko, mengatakan ada kenaikan minat pada jurusan boga. Salah satu faktornya adalah acara Masterchef di televisi.

Sejalan dengan alasan Agus, siswa boga di SMK Marsudirini Marganingsih, Veronica Omega Septin, bercita-cita menjadi koki. Berawal dari hobi memasak di rumah, Veronica ingin mengembangkan hobi memasaknya menjadi pekerjaan di masa depan.

Sementara itu, mantan kepala dapur Pringsewu Yogyakarta dan Purwokerto, Wuri Handayani, mengaku merupakan alumnus SMKN 4 Solo. Dia tertarik bersekolah di jurusan boga karena terinsipirasi ayahnya. Wuri terbiasa melihat ayahnya memasak untuk sembilan bersaudara, ibu, serta neneknya.

Kondisi itu membuat Wuri ingin membantu sang ayah memasak, mulai dari membuat sambal hingga memasak rendang. “Dari hal kecil seperti membuat sambal hingga memasak rendang, saya akhirnya memutuskan untuk [belajar di] sekolah boga SMK 4 Solo lalu kuliah di Akademi Tarakanita Yogyakarta. [Jadi] Dari membantu masak akhirnya berprofesi menjadi kepala dapur di Pringsewu Yogyakarta dan Purwokerto sebelum menikah,” kata Wuri.