Keluarga Penumpang Lion Air Asal Klaten Ikhlas Tapi Berharap Mukjizat

Wahyu Susilo, warga Trucuk, Klaten, yang menjadi salah satu penumpang pesawat Lion Air JT/610. (Istimewa/keluarga)
30 Oktober 2018 21:05 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Keluarga Wahyu Susilo, 31, warga Dukuh Geneng, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten, yang merupakan salah satu penumpang Lion Air JT-610 jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, masih berharap Wahyu ditemukan dalam kondisi selamat.

Adik ipar Wahyu, Wirawan Andiyanto, 26, mengatakan Wahyu Susilo tinggal di Klaten setelah menikah dengan kakaknya, Isti Khasanah, 30, sekitar tahun 2013 lalu. Wahyu berasal dari Temanggung.

Wahyu dan Isti dikarunia seorang putri bernama Kenarayya yang berumur tiga tahun. Sementara, Isti saat ini dalam kondisi hamil tujuh pekan.
Wirawan menjelaskan sudah ada kerabat Wahyu asal Temanggung yang berada di Jakarta untuk memantau perkembangan para korban.

Menurut Wirawan, Isti juga sudah diminta mengirimkan data-data seperti foto Wahyu serta sidik jari dari dokumen yang dimiliki Wahyu. Data-data itu dikirimkan melalui grup Whatsapp (WA) keluarga mereka.

“Ada grup tersendiri dari keluarga untuk memantau perkembangan ini,” kata Irawan saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (30/10/2018).

Wirawan menjelaskan kakaknya, Isti, mengetahui kabar jatuhnya pesawat tersebut pada Senin (29/10/2018) pagi melalui tayangan televisi ketika menjalankan rutinitasnya sebagai guru di SDN 1 Klaten.

Namun kala itu Isti belum menerima informasi resmi jika suaminya menjadi salah satu korban yang ada di dalam pesawat.

Wirawan menjelaskan kali terakhir kakaknya berkomunikasi dengan Wahyu pada Senin pagi atau sebelum pesawat take off. Hal itu biasa dilakukan Wahyu setiap kali ia bertugas. Namun, setelah ada informasi jatuhnya pesawat tersebut, ponsel milik Wahyu tak bisa lagi dihubungi.

Wahyu selama ini bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkantor di Jakarta. Ia kerap bertugas ke luar Pulau Jawa. Kali terakhir, Wahyu bertugas di Palu dan memanfaatkan hari liburnya pada Sabtu-Minggu untuk pulang ke Klaten bertemu istri dan anaknya. Ia kembali berangkat ke Jakarta menumpang kereta api pada Minggu (28/10/2018) sore.

Wirawan menjelaskan tak ada firasat atau pesan terakhir yang ditinggalkan Wahyu. Selama ini, Wahyu dikenal baik dan rajin beribadah. “Saya mewakili keluarga berharap ada mukjizat dari Tuhan. Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan, keluarga ikhlas,” jelas dia.