Sungai Bengawan Solo Tercemar, Ahli Lingkungan UNS Sarankan Ini

Air Kali Samin, Sukoharjo, berwarna hitam, Minggu (28/10 - 2018). (Istimewa/Perumda Air Minum Toya Wening Solo)
01 November 2018 17:10 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah ahli lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah lain untuk mengatasi masalah pencemaran Sungai Bengawan Solo.

Ketua Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan UNS Solo, Prabang Setyono, mengatakan Pemkot Solo tidak bisa berjalan sendiri mengatasi pencemaran Sungai Bengawan Solo. Pemkot mesti menggandeng pemerintah daerah lain untuk menangani masalah lingkungan tersebut. Dia menilai, upaya pencegahan aktivitas pencemaran sungai seharusnya dimulai dari hulu.

"Solo itu kan hilir, yang panen limbah. Jadi jelas Solo perlu kerja sama dengan pemerintah daerah lain untuk mengatasi masalah ini," kata Prabang saat berbincang dengan solopos.com, Kamis (1/11/2018).

Selagi Pemkot Solo berupaya berkoordinasi dengan pemerintah daerah lain, Prabang mendorong Perumda Air Minum Toya Wening Solo bergerak mencari strategi alternatif untuk mendapatkan air bersih.

Dia meminta Perumda Air Minum jangan menambah sumur dalam seperti yang disarankan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo untuk menghasilkan air bersih. Prabang menyarankan Perumda Air Minum lebih baik mengoptimalkan keberadaan air hujan untuk diolah menjadi air bersih.

"Ini sebentar lagi masuk musim hujan. Airnya coba mulai jangan dibiarkan begitu saja dibuang ke sungai. Bikinlah sistem penampung air hujan untuk kemudian diolah menjadi air bersih. Kalau PDAM [Perumda Air Minum] menerapan ini, bisa lebih hemat. Saat musim kemarau, baru memanfaatkan sumur dalam yang ada," jelas Prabang.

Dosen Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS Solo, Pranoto, juga menyarankan Pemkot bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah lain guna mencari solusi mengatasi pencemaran Sungai Bengawan Solo.

Dia mendorong pemerintah daerah yang wilayahnya dialiri sungai agar memperketat pengawasan terhadap operasional pabrik tekstil. Jangan sampai pemerintah kecolongan dengan adanya pabrik atau industri yang membuang limbah tidak sesuai baku mutu.

"Perusahaan-perusahaan mesti memiliki instalasi pengolahan air limbah yang mumpuni. Menjadi tugas pemerintah kemudian adalah melakukan monitoring dan memberikan sanksi kepada perusahaan yang melanggar ketentuan. Pemerintah ini kan wajib melakukan Proper [Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan]," papar Pranoto.

Di sisi lain, Pranoto menganggap Perumda Air Minum Toya Wening perlu melakukan evaluasi terhadap sistem pengolahan air baku Sungai Bengawan Sol yang kini diterapkan.

Dia mengungkapan barang kali ada teknologi atau sistem yang lebih baik yang bisa digunakan untuk mengolah sumber air baku sungai menjadi air bersih. Pranoto sendiri pernah menemukan alat penjernih air yang diberi nama Prans Water Filter. Prans Water Filter terdiri dari magnet alofan aktif, arang aktif dan resin penukar ion.

Magnet berfungsi menjadikan air bersih tanpa serbuk besi, merkuri, tembaga, zink dan sebagainya. Alofan aktif berfungsi menyerap ion logam berat, sedangkan arang aktif berfungsi menghilangkan bau dan juga sebagai penyerap logam. Kemudian resin penukar ion berfungsi untuk menghilangkan zat besi, mangan dan bahan kimia lainnya yang mencemari air.

"Model Prans Water Filter diharapkan dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi PDAM perkotaan sebagai metode alternatif pengelolaan air sungai menjadi air minum,” terang Pranoto.