Mikroorganisme untuk Tangani Pencemaran Bengawan Solo

Air yang mengalir di Kali Samin, Sukoharjo, menuju Bengawan Solo, berwarna hitam, Minggu (28/10). - Dok. Perumda Air Minum Toya Wening Solo
01 November 2018 21:53 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos, SOLO—Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS), Nur Sumedi, menyebut rencana penggunaan mikroorganisme di sela-sela Koordinasi Tata Kelola DAS Region Jawa bagian Tengah di Hotel Haris, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Kamis (1/10/2018).

Mengenai pencemaran Bengawan Solo yang mengganggu suplai air di Kota Bengawan, Nur Sumedi menyebut BPPTPDAS sudah meneliti penggunaan mikroba bioremediasi untuk mengurangi polutan lingkungan, termasuk limbah pabrik. Kendati begitu, aplikasi mikroba itu baru skala laboratorium.

Dikutip dari Wikipedia, bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan.

Perumda Air Minum Toya Wening belakangan ini mengeluhkan air Bengawan Solo yang tidak bisa diolah menjadi air bersih untuk pelanggan. Air sungai berwarna-warni oleh limbah kimia, menyebabkan air Perumda keruh. Perumda (dulu PDAM) akhirnya menghentikan operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug dan Jebres. Pelanggan air minum mendapatkan pasokan menggunakan truk tangki.

Kualitas air tanah yang pekat dan debit yang menurun saat musim kemarau merupakan imbas dari kerusakan daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan tersebut tak hanya melanda kawasan hulu tapi juga hilir. Penyebab kerusakan tersebut di antaranya tata kelola ruang yang buruk dan deforestasi.

Nur Sumedi mengatakan persentase hutan DAS minimal 30% dari luas lahan. Kendati begitu, konversi lahan untuk permukiman dan pertanian menyebabkan jumlah hutan menurun, kendati luasannya tetap. “Salah satu contoh paling tampak adalah pemanfaatan daerah sepadan sungai yang digunakan untuk selain hutan. Ini mengurangi daerah tangkapan air, belum lagi adanya sedimentasi atau longsoran tebing yang masuk ke sungai,” kata Nur Sumedi.

Nur Sumedi mengatakan sejumlah teknologi yang bisa diaplikasikan untuk pemulihan DAS, di antaranya adalah pemilihan jenis pohon andalan, penyediaan bibit berkualitas, waktu tanam yang sesuai musim, dan pemeliharaan tanaman sampai berumur tiga tahun. Penyediaan bibit berkualitas dapat dilakukan dengan Koffco System untuk jenis meranti. Teknik lainnya meliputi silvikultur ( pengendalian proses penanaman, pertumbuhan, komposisi, kesehatan, dan kualitas suatu hutan),  dan teknik konservasi tanah dan air.

Sementara itu, Teguh Suprapto dari LSM Persepsi menyampaikan pengelolaan DAS kemitraan berbasis desa yang dilakukan oleh masyarakat Sub-DAS Keduang di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Masyarakat di wilayah itu mencegah DAS rusak dengan mengamati potensi erosi di sejumlah lahan dan hutan. “Selama lima tahun kami mencoba mencegah air yang keluar dari desa itu membawa erosi atau sedimen ke sungai. Caranya melalui pengamatan oleh warga. Warga dilibatkan aktif mencegah kerusakan ekosistem DAS,” kata Teguh.