Solopos Hari Ini: Pasar Darurat di 3 Lokasi

Harian Umum Solopos edisi Jumat (2/11 - 2018).
02 November 2018 12:00 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota Solo membidik tiga lokasi yang akan digunakan sebagai pasar darurat bagi pedagang Pasar Legi Solo. Pedagang kios dan los rencananya ditempatkan di Jl. Sabang atau jalan di sekitar kawasan Pasar Legi.

Sedangkan, pedagang oprokan bakal diarahkan untuk berjualan di tiga lokasi, yakni di Jl. Monumen ruas Gerbang Utara Pasar Legi-Gerbang Monumen ‘45 Banjarsari (Monjari), Jl. Lumban Tobing ruas Jl. SabangGerbang Utara Pasar Legi, dan Jl. Sabang ruas Pasar Elpabes.

Kabar terbaru tentang rencana pembukaan Pasar Darurat bagi pedagang Pasar Legi Solo itu menjadi headline pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Jumat (2/11/2018). Berita tersebut bisa dibaca secara lengkap di E-Paper Solopos.

Selain kabar tentang rencana pembukaan pasar darurat tersebut, halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini juga diwarnai dengan kabar terbaru tentang tragedi jatuhnya pesawat terbang Lion Air JT-610.

Kotak Hitam Terpisah, Pencarian Berlanjut

Tim pencari menemukan black box atau kotak hitam pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di Tanjung, Karawang, Jawa Barat (Jabar), Kamis (1/11/2018). Namun, kotak hitam yang ditemukan baru flight data recorder (FDR). Sedangkan bagian lain dari kotak hitam yaitu cokcpit voice recorder (CVR) belum ditemukan.

Penyelam dari Korps Marinir, Sertu Hendra Syahputra, menemukan FDR kotak hitam sekitar pukul 10.05 WIB. Lokasinya berada di 500 meter dari koordinat hilang kontaknya Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang pada Senin (29/10/2018).

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya di Harian Umum Solopos edisi hari ini menyajikan berita utama tentang pecemaran lingkungan di Kota Solo. Bukan hanya itu, ada pula kabar menarik tentang kreativitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Klaten yang menjadi sorotan pada halaman Soloraya di Harian Umum Solopos edisi hari ini.

Harus Ajak Daerah Lain

Sejumlah ahli lingkungan menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah lain untuk mengatasi masalah pencemaran Bengawan Solo. Ketua Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan UNS Solo, Prabang Setyono, mengatakan Pemkot Solo tidak bisa berjalan sendiri.

"Solo itu kan hilir, yang panen limbah. Jadi jelas Solo perlu kerja sama dengan pemerintah daerah lain untuk mengatasi masalah ini," kata Prabang saat berbincang dengan Solopos, Kamis (1/11/2018). Prabang juga mendorong Perumda Air Minum Toya Wening Solo bergerak mencari strategi alternatif untuk mendapatkan air bersih.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Berlomba Pamer Kreativitas Olah Dana Desa

Pengalokasian dana desa (DD) di sejumlah desa jamaknya dipakai untuk urusan infrastruktur mulai dari pengaspalan jalan, talut, betonisasi, jembatan, hingga gedung UMKM, baru sisanya pemberdayaan masyarakat. Kemajuan desa selalu dilihat kali pertama dari halus tidaknya jalan.

Namun, paradigma semacam itu perlahan-lahan berubah seperti yang dilakukan sejumlah desa di Kecamatan Karanganom, Klaten. Alokasi untuk infrastruktur dikurangi, lalu dialihkan ke program-program investasi untuk pemberdayaan masyarakat.

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.