4 Desa Pusat Batik, Mutiara Tersembunyi Klaten

Perajin mempraktikkan cara membatik saat digelar Festival Batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, Jumat (24/8 - 2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
03 November 2018 05:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak empat desa di Kecamatan Bayat memiliki potensi yang sama yakni kerajinan batik. Keempat desa itu diminta memiliki satu showroom yang bisa memajang hasil kerajinan batik dari keempat desa tersebut.

Keempat desa itu yakni  Banyuripan, Jarum, Kebon, serta Beluk. Pembentukan kawasan wisata batik di empat desa itu melalui surat keputusan (SK) bupati tertanggal 17 Desember 2017. “Nama kawasannya itu Banjarkeluk yang merupakan singkatan dari keempat desa,” kata Plt Camat Bayat, Sumaryono, saat ditemui di Desa Jarum, Jumat (24/8/2018).

Pembentukan kawasan itu untuk mendukung pengembangan batik di empat desa. Selain kain, kerajinan lainnya yang ikut dikembangkan yakni kerajinan tangan. Potensi pengusaha serta perajin batik di empat desa melimpah. Ia memperkirakan di masing-masing desa, 70-80 persen keluarga memiliki usaha di bidang batik.

Sumaryono menjelaskan saat ini masih dilakukan pendataan aset pengrajin batik yang ada di Bayat. Ditargetkan, maret 2019 mulai membangun showroom yang bisa menjadi pusat memamerkan dan memasarkan batik.

Pariwisata

“Belum lama ini dari Komisi B DPRD Jawa Tengah menyampaikan untuk menunjang pariwisata ada pelatihan dengan dipersiapkan dua kelas. Pelatihan itu terkait manajemen dan membuat inovasi pengelolaan pariwisata. Kalau tidak dilatih nanti akan timbul premanisme, saling berebut lahan,” katanya.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta agar ada satu lahan strategis dan luas diantara empat desa itu yang bisa dibangun showroom batik. “Dari empat desa ini memang harus berembuk. Tentu showroom itu bisa untuk menjual produk dari empat desa,” jelasnya.

Mulyani menuturkan pemkab siap membantu pendanaan pembangunan showroom melalui APBD Klaten selama perencanaan sudah matang. Ia mengatakan showroom itu juga bisa menjadi tempat untuk menggelar berbagai kegiatan pendukung potensi batik seperti Festival Batik.

Sementara itu, para pengusaha batik di Desa Jarum yang tergabung dalam Paguyuban Pendopo berencana mengembangkan wisata edukasi dengan fokus kegiatan membatik. Wisata itu diluncurkan tahun ini.

“Kegiatannya mengarah pada praktik membatik. Jadi ada semacam pelatihan membatik untuk siswa. Di desa kami sudah disiapkan homestay yang disediakan dari desa. Ini menjadi salah satu cara kami mempromosikan potensi yang ada di desa,” kata ketua Paguyuban Pendopo, Susana Dewi Puspitawati.