Warga Solo Paling Dirugikan Akibat Pencemaran Bengawan Solo

Air Kali Samin, Sukoharjo, berwarna hitam, Minggu (28/10 - 2018). (Istimewa/Perumda Air Minum Toya Wening Solo)
04 November 2018 21:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menjawil daerah lain di Soloraya untuk bersama-sama mengatasi masalah pencemaran Sungai Bengawan Solo.

Pemkot menyadari warga Solo menjadi pihak yang paling dirugikan atas kondisi Sungai Bengawan Solo yang tercemar.

Pelaksana Harian (Plh) Penjabat (PJ) Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Eny Tyasni Suzana, berencana mengutus pejabat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo untuk berkoordinasi dengan pejabat DLH dari daerah lain di Soloraya guna membahas masalah lingkungan tersebut.

Pemkot ingin pemerintah daerah lain ikut mengupayakan eliminasi aktivitas pencemaran air Sungai Bengawan Solo maupun sungai-sungai lainnya.

“Kami berharap krisis air yang dialami sebagian warga Solo saat ini bisa menjadi bahan pembelajaran bersama, khususnya bagi diri kami sendiri untuk memperketat pengawasan terhadap lingkungan sungai,” kata Eny saat diwawancarai Solopos.com terkait kasus pencemaran Sungai Bengawan Solo, Jumat (2/11/2018).

Eny yakin pemerintah daerah lain bakal merespons baik ajakan Pemkot tersebut. Pernyataannya itu didasari pengalaman sebelum-sebelumya.

Dia mengambil contoh ketika Pemkot Solo ingin menyediakan layanan bus Batik Solo Trans (BST) di Kota Bengawan. Nyatanya, pemerintah daerah lain merespons baik program tersebut dengan menyediakan halte pendukung layanan BST di wilayah mereka.

Dalam kasus pencemaran Sungai Bengawan Solo, Pemkot ingin pemerintah daerah lain bisa juga membina perusahaan-perusahaan di daerah mereka agar tidak membuang limbah sembarangan ke aliran sungai, khususnya Bengawan Solo.

“Saya yakin mereka [pemerintah daerah lain di Soloraya] mau menerima ajakan Pemkot Solo itu. Kami berharap mereka bisa melakukan pembinaan kepada perusahaan-perusahaan agar mengolah limbah dengan benar. Pokoknya jangan sampai membuang limbah sembarangan lagi ke Sungai Bengawan Solo,” jelas Eny.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, Eko Prajudhy Noor Aly, mengakui belakangan ini BPBD menerima banyak keluhan dari warga di wilayah Kecamatan Jebres dan Pasar Kliwon yang kesulitan memperoleh air bersih.

BPBD mendapati kebanyakan warga yang melapor tersebut adalah para pelanggan Perumda Air Minum Toya Wening. Warga mengalami krisis air karena Perumda Air Minum tak lagi mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug dan Jebres.

Perumda Air Minum terpaksa melakukan hal itu karena kesulitan mengolah air baku Sungai Bengawan Solo yang tercemar.

“Kami hingga sekarang terus berkoordinasi dengan PDAM [Perumda Air Minum] untuk membantu warga yang mengalami krisis air bersih. Akan kami kirim tanki air untuk membantu mereka-mereka yang kesulitan mendapatkan air bersih,” jelas Eko saat ditemui Solopos.com di Pasar Legi, Jumat pagi.

Direktur Teknik (Dirtek) Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Tri Atmojo Sukomulyo, mempersilakan para pelanggan Perumda Air Minum di wilayah terdampak penghentian operasional IPA Jurug dan IPA Jebres bisa menghubungi call center (0271) 712 465 atau 725 636 untuk dikirim tanki air.

Perumda Air Minum berkomitmen secepat mungkin menyelesaikan persoalan pengolahan air baku Sungai Bengawan Solo sehingga warga tak perlu lagi mengalami krisis air bersih.