Tak Masuk Peta BPBD, 3 Kecamatan Karanganyar Ini Krisis Air

Sejumlah warga Jetis, Jaten, menerima bantuan air bersih dari BPBD Karanganyar, Jumat (2/11 - 2018). (Istimewa/BPBD Karanganyar)
04 November 2018 07:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar pada 2017 lalu memetakan lima kecamatan rawan kekeringan.

Lima kecamatan tersebut yakni Kebakkramat meliputi Desa Banjarharjo, Kecamatan Mojogedang yakni di Desa Munggur, Kecamatan Gondangrejo di lima desa, Kecamatan Karanganyar di dua kelurahan, dan Kecamatan Jumapolo di lima desa.

Selain mendeteksi wilayah rawan kekeringan, BPBD juga mengumpulkan informasi sumber air di wilayah tersebut. Rata-rata warga di wilayah rawan kekeringan itu mengandalkan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas), pemasangan pipa ke sumber air di dusun terdekat, program sistem instalasi pengolahan air sederhana (Sipas), dan lain-lain.

BPBD belum mengeluarkan data wilayah rawan kekeringan 2018. Tetapi, berdasarkan keluhan beberapa bulan terakhir, warga di luar wilayah yang dipetakan itu mengeluhkan dampak kemarau panjang.

Warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari. BPBD sudah mengirimkan air untuk 33 keluarga atau 125 jiwa di Dusun Buntung, RT 002/RW 004, Desa Gerdu, Karangpandan, hingga 12 kali.

Selain itu, BPBD juga mengirimkan air untuk 45 keluarga di Dusun Jetis Wetan, RT 002/RW 004, Desa Jaten, Kecamatan Jaten. Pengiriman air berdasarkan surat permohonan dari desa ditujukan Bupati Karanganyar.

Pemkab Karanganyar menugasi PDAM Tirta Lawu Karanganyar dan BPBD Karanganyar membantu mengatasi persoalan dengan mengirimkan tangki air bersih. Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko, menyampaikan Pemkab melayani permohonan warga mendapatkan air bersih.

"Jaten itu baru tahun ini kekeringan. Kemarau tahun kemarin belum termasuk rawan kekeringan. Informasi dari [warga] Jaten, sumber air dekat sawah. Di sawah pakai sumur pantek untuk pengairan sawah. Mereka menduga debit air berkurang karena itu," kata dia saat ditemui Solopos.com di Kantor BPBD Karanganyar, Jumat (2/11/2018).

Dia mempersilakan warga mengajukan permohonan bantuan air bersih apabila membutuhkan. Selain Jaten dan Karangpandan, wilayah Tasikmadu juga tidak termasuk rawan kekeringan tahun lalu.

Tahun ini, sejumlah warga di Tasikmadu kesulitan air bersih. Seperti dialami warga Desa Ngijo, Kecamatan Tasikmadu. Rata-rata mereka mengeluh debit air berkurang. Mereka mengaku kondisi itu dialami saat kemarau tahun ini.

"Selama hidup di sini belum pernah begini. Baru tahun ini. Kemaraunya terlalu lama. Airnya ngithir. Itu harus dipancing dulu dan menunggu satu jam baru keluar air. Itu saja keluarnya sedikit. Mau mencuci saja susah," tutur warga Ngijo, Sri Hartini, sembari menunjukkan tong tandon air di dekat kamar mandi rumahnya.

Hal senada disampaikan Endah. Rumahnya tidak jauh dari Sri. Dia memiliki tandon air yang seharusnya penuh apabila diisi air selama dua jam.

Saat kemarau air di tandon tidak bisa penuh saat diisi air selama dua jam. Rata-rata sumber air dari tanah. Mereka memasang pipa ke dalam tanah untuk mendapatkan air bersih. Kedalaman pipa bervariasi 10 meter-15 meter.

Mereka punya cara berbeda mengatasi kondisi tersebut. Ada yang pasrah menunggu hujan turun tetapi ada juga yang berupaya dengan menyambung pipa saluran air agar lebih dalam masuk ke tanah.

Seperti dilakukan warga Ngijo, Wagiman. Panjang pipa air lama delapan meter kemudian ditambah empat meter menjadi 12 meter.

"Air keluar tetapi ya ngithir. Air enggak pernah surut di sini sejak bertahun-tahun lalu. Baru kali ini surut saat kemarau. Saya nyambung pipa, kalau enggak keluar air ya nebeng rumah warga lain," tutur dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya.

Wagiman mengaku terpaksa mandi di kantor tempat dia bekerja karena air di rumahnya tidak mengalir. Mereka berharap ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengatasi kondisi tersebut.

Di sisi lain, Bayan Ngijo Kulon, Agus Ari Priyadi, membenarkan kondisi itu. Tetapi, pemerintah desa belum mengambil tindakan. Pertimbangannya warga masih bisa berusaha dan memenuhi kebutuhan air menggunakan sumber yang ada.

"Di rumah saya juga airnya ngithir. Mesin nyedot air dari sumur. Air mengalir 20 menit lalu habis, mati. Airnya campur pasir. Harus sering dikuras supaya enggak buthek [keruh]. Saya nunggu hujan tapi kalau sampai akhir November enggak hujan ya lapor ke Pemkab. Minta bantuan," ungkap Agus.